PQR

Saturday, 25 August, 2007

Khamar dan Bid’ah

Filed under: Current Affairs, My Mind, Religion — pqr @ 2:54 pm

Malam itu kami bertiga mengobrol di sebuah warung kopi. Tempatnya cukup bersih untuk ukuran warung pinggir jalan yang buka di malam hari. Rupanya bapak yang memiliki warung ini hampir di saat tidak meladeni pelanggan, ia sempatkan untuk sekedar menengok di keadaan warungnya, kalau-kalau ada yang harus ia benahi atau ada bekas bungkus plastik yang harus dia pungut. Jika tidak demikian, maka ia menenggelamkan diri membaca berita di koran atau majalah.

Pak Ganu beliau pernah menyebut namanya pada awal-awal kami menjadikan warungnya sebagai tempat untuk bersantai membicarakan keseharian. Dengan perawakan yang cukup tegap untuk ukuran pria berusia sekitar lima puluh tahunan, dia tidak pernah (sepanjang aku mengetahui) memperlihatkan wajah lelah. Padahal beliau selalu membuka warungnya selepas Dzuhur hingga tutup sekitar jam sebelas malam. Paling-paling beliau beristirahat saat waktu shalat, setelah warungnya diganti jaga oleh anaknya yang menjadi tukang becak, itu pun tidak lama karena mungkin dia mengkhawatirkan pelanggan yang mungkin sudah menunggunya disamping si anak juga harus kembali ke pangkalan becaknya.

Kami mengelilingi salah satu meja pendek yang paling dekat dengan tempat pak Ganu duduk. Ya, warung pak Ganu adalah warung lesehan. Namun tidak seperti warung lesehan lain yang selalu ramai dengan anak muda, warung pak Ganu hanya berisi tiga buah meja. Di samping itu, beliau tidak memperdengarkan musik sama sekali dengan alasan beberapa warung lainnya sudah menyetel, sehingga beliau tidak perlu menambah kebingaran.

Obrolan kami kali ini juga ringan-ringan saja, seputar beberapa permasalahan kerja masing-masing, tidak ada yang istimewa. Aswa yang berkeliling mendistribusikan produk makanan ringan dan permen bercerita mengenai kejadian kecelakaan yang sempat disaksikannya. Seorang pemuda yang entah ngantuk atau sedang kalut mengendarai motornya terlalu ke tepi sehingga masuk ke dalam parit. Tidak terlalu dalam memang parit yang oleh pemuda tersebut dijadikan ‘tempat parkir’ motornya, tapi entah mengapa velg motornya sampai bengkok, sedangkan pemuda itu hanya lecet-lecet sedikit di telapak tangannya.

Aku pun bercerita mengenai salah seorang pelangganku yang memberikan sekantung plastik molen pisang dan kacang hijau di tempat kerjaku sebagai ucapan terima kasih karena pesanan brosur dan kaosnya selesai sebelum waktu tenggat. Aku bekerja di sebuah percetakan, dan pelanggan yang satu merupakan pelanggan yang sangat rewel ketika memesan cetakan. Namun bagi teman-teman yang bekerja di tempat aku berkerja, menganggap lebih baik seorang pelanggan rewel di depan, daripada dia mengajukan komplain karena mendapakan barang yang dipesan tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Bisdi menceritakan rencananya untuk mengajak kami ke sebuah masjid di tengah kota untuk mengikuti rangkaian ibadah Nisfu Sya’ban. Sejenak aku ragu akan ajakan tersebut karena aku pernah membaca bahwa hal yang demikian merupakan kegiatan yang sia-sia. Dan kamipun asyik berdiskusi mengenai apa yang kami tahu dari Nisfu Sya’ban. Sambil mengemil pisang goreng pak Ganu yang renyah dan menyeruput kopi jagung, kami saling melempar pertanyaan dan jawaban diselingi kelakar ringan.

Karena asyiknya, kami tidak menyadari bahwa pak Ganu tiba-tiba bergabung diantara kami sambil membawa sekaleng minuman yang aku tahu masuk dalam kategori khamar, hanya saja khamar yang ini mengklaim nol persen alkohol.

“Silahkan diminum, atau setidaknya dicicipi”, dengan senyum ringan pa Ganu menawarkan minuman tersebut kepada kami, yang tentu saja tidak seorang pun dari kami yang tidak kaget. Belum hilang keterkejutan kami atas tawaran itu, pak Ganu membuka segel kaleng minuman tersebut dan kemudian menuangkan semua isinya di selokan belakang warungnya tepat di sebelah kami.

“Bid’ah, itu seperti minuman ini, dikemas dengan embel-embel yang menarik dan seakan-akan aman”, pak Ganu berkata setelah habis tuntas isi kaleng itu dibuangnya. “Kita semua tahu bahwa minuman ini adalah busuk, haram, meskipun diberi embel-embel bebas alkohol, namun tetap memberikan efek mabuk bagi peminumnya.”

“Begitu pula dengan bid’ah”, pak Ganu melanjutkan pembicaraannya, “Sebenarnya itu adalah sesuatu yang busuk dalam agama, namun karena dikemas dengan baik oleh yang membuatnya, menjadikan seakan-akan kegiatan tersebut baik.”

“Berhati-hatilah, nak sekalian”, ujar pak Ganu, “Janganlah mudah tertipu oleh apa yang kalian lihat. Terlebih dalam beragama. Karena kalian tidak bisa main-main dengan urusan agama”.

Dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang jelas, kami bertiga ditampar bersama-sama dengan sekali tamparan. Bahkan tidak menyebutkan Qur`an atau pun hadist.

Karena tidak ada satu pun dari kami yang berbicara, pak Ganu kembali ke singgasananya sembari meneruskan membaca majalah yang rupanya ia tinggalkan untuk memberikan kami pencerahan.

Ya Allaah… ma`afkan kekhilafan kami.

Wednesday, 6 June, 2007

Aku pun malu…

Filed under: Weblogs — pqr @ 10:43 am

Assalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Kami memanggilnya bu Ismi, salah satu teman kuliahku. Orangnya ramah, senang bercanda, ceria, tapi bukan termasuk orang yang suka bermain-main dalam setiap masalah. Maksudku, dia adalah seorang yang tegas dalam hal tanggung jawab. Sungguh berbeda dengan aku yang… kalau dalam bahasa Jawa nggelendem, aku sulit mencari padana kata ‘nggelendem’ dalam bahasa Indonesia, jadi maaf untuk yang baca tulisan ini tapi ngga ngerti bahasa Jawa. Mungkin istilah yang paling mendekati adalah ‘tidak bersungguh-sungguh’.

Hal yang paling aku suka dari bu Ismi adalah selalu banyak kue di rumahnya :-) Teman-teman lain pun juga beranggapan demikian, meski mungkin kategori ini bukan menjadi yang paling mereka sukai, tapi semua sepakat bahwa hanya Allaah Subhanahu wa Ta’aala yang mampu membuat teman-teman kelaparan jika mampir ke rumah bu Ismi :-)

Senin sore (04/06/07) kemarin aku berkunjung ke rumah bu Ismi karena komputer anak sulungnya error dan aku diundang untuk memperbaikinya. Saat bertemu bu Ismi, Alhamdulillaah… ternyata beliau sudah melakukan persalinan ketiga. Aku tidak terlalu banyak ngobrol setelah dipersilahkan masuk karena anaknya sudah menyeretku ke sebuah CPU yang direbahkan dalam posisi aneh seperti habis dibongkar. Singkat cerita, setelah hampir satu jam aku mengajari cara membongkar dan memasang lagi tiap bagian CPU itu, aku memastikan bahwa tidak ada kerusakan yang berarti dari CPU tersebut. Kalaupun tadinya ngga mau nyala dan timbul bau gosong, dimungkinkan karena pada saat membersihkan, ada sudut tertentu yang malah debunya menggumpal dan membuat konsleting.

Selesai membetulkan CPU, aku kembali ke ruang tamu untuk sekedar ngobrol dengan bu Ismi. Sambil menyeruput kopi yang dihidangkan, (tak lupa dengan rakus mencomot kue yang ada) aku menanyakan kabar persalinannya.

“Laki-laki apa perempuan bu?”, aku bertanya. “Perempuan”, bu Ismi menjawab singkat yang kemudian aku timpali “Alhamdulillaah, lancar kan bu?”. “Iya mas Harun, lancar”, jawabnya, “tapi mahal…”

Semula aku memahami jawaban tersebut merupakan keluhan mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk persalinan dan hendak bertanya seberapa mahal namun entah mengapa yang keluar dari mulutku adalah “Mahal bagaimana bu?”, karena kulihat sepertinya beliau menunjukkan ekspresi menahan kesedihan, bukan mengeluh. Karena memang sepanjang yang aku tahu, bu Ismi bukan lah kelompok orang yang suka mengeluh kepada teman-temannya. Ternyata memang aku salah memahami, perkiraanku bahwa yang dimaksud bu Ismi ‘mahal’ merupakan biaya, adalah salah besar. “Ada kebocoran jantung…”, kata bu Ismi lirih.

Masyaallaah… ibaku pun menderu, orang seperti bu Ismi harus menghadapi hal seperti itu, dikaruniai seorang putri yang…
Bu Ismi pun bercerita ini itu mengenai putri bungsunya, bahwa dari foto ronsen tampak adanya rembesan darah, bahwa dia sangat menjaga agar si bungsu tidak menangis terlalu lama karena hal ini akan memacu kerja jantungnya dan rembesan akan semakin banyak, bahwa si bayi tidak bisa terlalu lama jika dimandikan, badannya menjadi biru… ya Allaah…

(aku tidak sanggup untuk menceritakan kembali lebih banyak lagi apa yang dituturkan bu Ismi)

Di akhir cerita, bu Ismi bertutur “Yaa… beginilah ma Harun, oleh Allaah diberi kepercayaan untuk menghadapi hal seperti ini”
Mencelos… Tiba-tiba saja dadaku sesak, perutku menjadi seperti berguncang, kutundukkan wajahku yang tiba-tiba menjadi gerah. Aku malu.

Bu Ismi, orang yang mendapatkan dua pahala jika membaca Al-Qur’an (insya Allaah), karena beliau masih terbata-bata (sumber), mampu mengucapkan kata yang membesarkan hatinya, tapi sekaligus menciutkan keakuanku sedemikian rupa. Ketabahan luar biasa dengan menganggap bahwa ujian (kuharap memang ujian) yang diberikan oleh Allaah Subhanahu wa Ta’aala merupakan bentuk kepercayaan Allaah Azza wa Jalla kepada dirinya untuk mampu menghadapi amanah serupa itu.

Aku pun segera berpamit, tidak sanggup lebih lama di rumah itu saking malunya, malu pada diri sendiri, malu pada orang-orang di sekitarku, malu pada Rabbku yang aku selalu mengeluh kepadaNya tanpa dibarengi usaha yang berarti untuk mengatasi keluhanku selama ini.

Ya Allaah, aku menyaksikan ketabahan orang yang terbata-bata saat membaca ayat-ayatMu sebagai tamparan serius pada kesia-siaan yang kulakukan selama ini. Sungguh Engkau Maha Segala-galanya telah memberikan aku pelajaran seperti ini.

Air mataku masih sempat menitik ketika kutuliskan cerita ini, bukan melulu karena iba, namun terlebih karena rasa malu yang membuat setiap organ tubuhku menjadi terasa tidak terkoodinasi dengan benar.

Semoga Allaah Rabbul ‘Alamiyn menguatkan hati orang-orang yang bersungguh-sungguh mengharapkan RidhoNya.

Wassalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.