Free SMS
klik di sini untuk Free SMS
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Seorang sahabat Jenderal Marinir (Purn) Gafur Khalik dalam rangka memperingati 60 tahun Indonesia merdeka pada 18 Agustus 2005 mengirim SMS kepada saya sebagai berikut:
”60 tahun merdeka. Kita menikmati tumpeng. Nasi beras Vietnam, tempe kedelai Amerika Serikat, abon daging Australia, buah pisang Brasil, bawang Cina, garam India, bendera kertas Skotlandia. Bayar tumpeng ke bank Singapura dengan mobil Jepang.
Kita bangga karena tampah dan besek, bambu Indonesia. Merdeka dan dirgahayulah bangsaku.”(Ejaan disesuaikan dan singkatan ditulis lengkap).
Apa yang terbaca dalam ungkapan itu tidak lain dari rasa kecewa yang berat dari seorang jenderal karena menyaksikan bangsa ini tidak mungkin mandiri, tetapi justru semakin bergantung saja kepada bangsa lain, termasuk untuk komoditas yang paling sederhana. Lalu, di mana kedaulatan kita sebagai bangsa merdeka? Inilah di antara pertanyaan fundamental yang melingkari otak dan hati kita semua.
Reaksi spontan saya terhadap syikwa (rintihan) sahabat di atas saya tulis dalam bahasa Inggris, yang terjemahannya sebagai berikut:
”Apa yang harus kita kerjakan jenderal? Haruskah kita berdiam diri, atau kita harus berbuat sesuatu betapa pun kecil nilainya untuk kepentingan bangsa yang lagi oleng ini. Sebegitu jauh, terlalu banyak kesalahan yang telah kita lakukan, dan ironisnya, atas nama Pancasila. Jika memang demikian halnya, siapa kita ini sebenarnya? Kadang-kadang saya benar-benar kecewa berat.”
Dari perbincangan saya selama sekian tahun dengan berbagai kalangan, dari pejabat tinggi sampai rakyat jelata, apa yang dirasakan Gafur Khalik sebenarnya telah menjadi perasaan banyak orang. Positifnya adalah bahwa di antara anak bangsa ini masih banyak yang siuman dan seperasaan, tetapi tidak terlalu tahu apa yang harus dilakukan. Saya sendiri pada akhirnya mengambil sikap untuk tidak diam, sekalipun yang dapat kita lakukan hanyalah secuil, tidak berarti banyak bagi bangsa yang begini besar, lebih dari 17 ribu pulau dengan penduduk sekitar 220 juta.
Tidak mudah memang mengurus negara kepulauan yang begitu luas, tetapi bila asas keadilan benar-benar dilaksanakan seperti yang dituntut Pancasila, maka ada harapan bahwa Indonesia akan bertahan sebagai negara merdeka yang berdaulat. Adapun sekarang kita sering diobok-obok pihak asing, itu karena kita rapuh dari dalam. Dalam masyarakat kita, sikap mutual distrust (saling tidak percaya) masih terasa sekali.
Mari kita tengok Aceh dan Papua. Akar masalah Aceh dan Papua selama ini dapat ditelusuri kepada minimnya perhatian pemerintah untuk menegakkan keadilan. Setelah berdarah-darah, baru kita mulai siuman. Pemerintah Indonesia dan GAM akhirnya telah menandatangani MoU untuk damai. Ini salah satu prestasi pemerintahan SBY-Kalla. Pertanyaannya adalah: dapatkah dicegah, dalam kasus Aceh ini, kemungkinan pihak-pihak tertentu (spoilers of peace, untuk meminjam ungkapan Rizal Sukma) untuk merusak suasana pasca-MoU? Namun betapapun juga, MoU ini jelas merupakan terobosan untuk meretas konflik bersenjata di NAD yang sudah berlangsung 29 tahun (1976-2005).
Saudara-saudara kita di Papua sekarang sedang menghadapi masalah yang sangat serius berupa gempuran HIV/AIDS yang sudah semakin parah di sana. Kaum intelektual Papua nonstruktural telah menyadari bahwa masalah serangan virus yang belum ada obatnya ini jika tidak cepat ditanggulangi, tidak mustahil akan menghancurkan sebuah suku bangsa. Kabarnya di Manokwari saja, sudah lebih 30 persen penduduknya yang telah diserbu virus berbahaya itu. Proses penularannya dapat berlangsung sangat cepat dan dahsyat.
Menghadapi konflik sesama anak bangsa selama sekian dasawarsa telah cukup menguras energi bangsa ini. Lalu bagaimana dengan ‘rintihan’ Gafur Khalik di atas, di mana kita dari hari ke hari telah tampil sebagai salah satu bangsa konsumen terbesar di muka bumi? Di mana kedaulatan kita dalam politik dan ekonomi? Bagaimana nasib bank-bank swasta dengan saham mayoritas di tangan asing? Sungguh berat masalah yang tengah dihadapi bangsa kita. Itu belum lagi kita berbicara tentang kualitas pendidikan yang kabarnya merosot dari waktu ke waktu. SBY-Kalla mewarisi itu semua.
Akankah pemerintahan ini mampu meletakkan fondasi sosio-politik dan sosio-ekonomi yang kuat untuk kepentingan generasi mendatang yang bukan generasi kita? Daftar pertanyaan dapat menjadi sangat panjang, tetapi sudahlah. Ini bangsa milik kita semua yang harus kita bela dengan cara kita masing-masing dan dalam posisi kita masing-masing. Jangan diam dan jangan terus mengeluh. Apa yang disampaikan Gafur Khalik, sebenarnya bukanlah keluhan, tetapi keprihatinan yang sangat beralasan dan wajar.
Sumber: Republika, Selasa, 23 Agustus 2005
—————-
ng…
Jadi teringat dengan salah satu iklan sebuah bank beberapa tahun yang lalu, ditampilkan Foto Panglima Besar Sudirman sedang memberikan hormat pada suatu upacara. Di atas kepalanya tertulis “siapa yang tak kenal pak Dirman?” (kurang lebih seperti itu). Dan ada tulisan lain yang terbaca “siapa yang kenal dengan bapak-bapak lainnya?”.
Baik…
Semoga ini bukan sekedar lelucon, meskipun ini memang sebuah tulisan yang pantas dijadikan bahan untuk mentertawakan diri sendiri. Terlebih dalam beragama…
Berapa lagu yang sudah kita hafal, bahkan ada lagu yang lama-lama masih bisa kita dendangkan. Sedangkan Al-Qur’an? Sudah berapa Surah kita hafal? Jangankan berapa surah, berapa ayat deh…?
Kita juga ingat adegan-adegan film-film yang pernah kita tonton, bahkan film yang kita tonton pada masa kecil. Tapi… (khusus ikhwan) pada hari Sabtu pagi, apakah kita masih ingat isi khutbah Jum’at kemarin harinya? Jangankan Sabtu pagi Jum’at sore saja kita berusaha keras untuk mengingat isi khutbah tadi siangnya.
Yah…
Can’t say anything more
Assalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh
Barusan mbaca message dari teman mengenai penulisan salam di SMS.
Maksud singkatan ” A’kum” Assalamu’alaikum
Untuk renungan bersama :
Janganlah kita menggantikan perkataan “Assalamualaikum” dengan “A’kum” dalam sms atau apa sekalipu melalui tulisan. Jika perkataan Assalamualaikum itu panjang, maka hendaklah kita ganti dengan perkataan “Salam” iaitu sama makna dengan Assalamualaikum. Sesama lah kita memberitahu member-member yang selalu sangat guna shortform A’kum dalam sms ataupun email. Perkataan ‘AKUM’ adalah gelaran untuk orang-orang Yahudi untuk orang-orang bukan yahudi yang bermaksud ‘BINATANG’ dalam Bahasa Ibrani.
Ia singkatan daripada perkataan ‘Avde Kokhavim U Mazzalot’ yang bermaksud ‘HAMBA-HAMBA BINATANG DAN ORANG-ORANG SESAT’. Mulai sekarang jika ada orang hantar shortform “A’kum”, kita ingatkan dia guna “Salam” kerana salam ialah dari perkataan Assalamualaikum. Semoga ada manfaatnya.
JIKA ANDA TIDAK KEBERATAN , FORWARD LAH CERITA KEPADA TEMAN TEMAN MU, KERANA SESUNGGUHNYA ILMU YANG BERMANFAAT ITU , AKAN ABADI JIKA DIAMALKAN.
Meskipun ini merupakan hoax yaitu othak-athik-mathuk (jawa) yang artinya menyambung-nyambungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain namun ada pelajaran yang bisa diambil, jangan suka menyingkat salam. Kalau dari pengalaman pribadi, aku pernah dimaki oleh seorang temen karena mengawali SMS dengan kata ass dengan jawaban what ass? ass-hole?. Juga mengenai penulisan 4JJ1, apa sih sulitnya nulis Allah (atau Allaah). Nah bagi temen-temen yang suka ngirim SMS dengan menyingkat-nyingkat kata, tolong dong diperhatiin, jaga ya agama ini.
Ya… itulah SMS, Short, pendek, seringkali pembacanya salah mengartikan karena beda cara membacanya (nada bicaranya). Misalnya kita mengirim kalimat “Ad ap c?“, maksud kita menanyakan sesuatu, tapi karena yang mbaca make logat ketus, jadinya malah ngga enak, kita dikira terganggu oleh perilaku dia. So, ati-ati ya…
Wassalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh
Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.