PQR

Friday, 28 September, 2007

Puasa kok lebih gampang marah?

Filed under: My Mind, Religion — pqr @ 11:22 am

Semilir angin sore yang menerpa pelataran Masjid Jami’ kota Malang sangat nikmat kurasakan ketika aku dan seorang teman bersantai sejenak setelah menunaikan shalat Ashar. Beberapa anak bermain-main diawasi oleh orang tua mereka. Seorang penjaga parkir berganti shif dengan rekannya yang beruntung dapat berjamaah shalat Ashar, sementara dia harus merelakan 26 pahala demi amanah dari orang yang menitipkan kendaraannya. Di sayap Utara… ah… beberapa akhwat…

“Suweger ya mas angine?”, temanku tiba-tiba nyeletuk.

“Iya seger, eh, iya angine seger”, aku terlonjak, karena kukira ia mengomentari apa yang barusan kupandangi. Duh… puasa-puasa gini ko malah sempat-sempatnya berangan panjang, di masjid lagi.

“Padahal tadi sumpek pol”, kata-kata temanku kini mantap terdengar setelah aku kembali ke alam sadarku. “Heran, katanya pas bulan puasa setan-setan pada dipenjara, kok malah gampang marah ya?”

“hm…”, aku bergunam, “Sebenarnya mudah marahnya kamu itu bukan karena dikompori ama setan, bahkan selama ini mungkin setan ngga pernah mengompori kamu untuk marah pada saat kamu menghadapi permasalahan yang sama, tapi dia membisiki untuk melakukan hal yang lebih buruk dari marah, misalnya, membuat strategi curang untuk membalas orang yang membuatmu marah. Kamu kan tau tentang permainan devide et impera-nya setan?”

“Ya, memang sih, kalo pas ngga puasa aneh juga ketika menghadapi permasalahan yang sama, malah tidak marah, tapi bener kata Sampeyan, aku malah berfikir buruk bagaimana caranya membalas kesewotan tersebut dengan cara yang lebih keji”

“Hehehe… Sebenarnya kamu mesti bersyukur, karena oleh setan kamu termasuk diperhitungkan, karena tidak mempengaruhi kamu dengan menyuruh marah.”

“Kok?”, tanya temanku.

“Ya, orang-orang yang ditakut-takuti setan dengan penampakan adalah mereka yang oleh setan sangat tidak diperhitungkan, karena iman mereka begitu tipis sehingga takut terhadap hal-hal seperti itu. Peringkat yang diatasnya adalah orang-orang yang bagi setan mudah dipengaruhi perilakunya secara langsung, misalnya ya marah itu tadi. Peringkat diatasnya lagi adalah orang-orang yang tahu kalau perilakunya tidak beres, maka itu dari setan sehingga mudah baginya untuk tidak mengikutinya, maka setan mempengaruhi pikirannya dengan berbagai bumbu strategi yang lebih halus untuk melakukan perilaku tidak beres sesuai dengan jalan pikiran orang tersebut. Peringkat selanjutnya adalah orang-orang yang mengetahui tipu muslihat setan, sehingga setan mempengaruhinya dari jalan orang-orang di sekitar agar mempengaruhi orang tersebut. Peringkat yang lebih tinggi lagi adalah jika jalan yang harus ditempuh oleh setan guna mempengaruhi orang tersebut adalah melalui musuh-musuh Allaah. Dan peringkat terakhir adalah para Nabi”

“Kok Sampeyan tahu yang gitu-gitu sih?”, temanku terheran-heran.

“Aku dapat info yang beginian dari mantan pengilmu hitam. Kalau dia mengatakan hal ini saat dia masih mengamalkan ilmu-ilmu gelap itu, aku ngga bakalan percaya, tapi karna dia mengatakan hal ini setelah dia bertaubat, aku percaya ajah”, paparku.

“Trus kenapa orang puasa jadi lebih mudah marah?”, temanku kembali menanyakan.

“Oh, ya… kalo dalam psikologi sih yang pernah aku pelajari, fisiologi orang lapar tuh emosinya cenderung ngga stabil. Hal ini dikarenakan salah satunya pasokan air dalam tubuh berkurang, karena berkurang darah jadi sedikit mengental, karena mengental jadi sedikit lebih lambat jalannya, karena jalannya lebih lambat sehingga pasokan nutrisi yang menjaga konsentrasi kita jadi ngga 100 persen. Karena konsentrasi ngga 100 persen makanya fungsi kendali terhadap emosi jadi terganggu, akhirnya gampanglah dia marah”.

“ooo… Trus sampeyan kira-kira masuk dalam golongan mana?”, tanya temenku.

“Apanya?”, aku bingung karna saking laparnya aku ngga konsentrasi, atau lebih tepatnya konsentrasiku terganggu oleh berlalunya akhwat di sayap Utara masjid menuju ke luar.

“Yang diperhitungkan setan!”

“Oh, sepertinya termasuk golongan kedua, aku sering marah-marah kan?”, selorohku karna masih memanjakan pikiranku ke serombongan akhwat yang berlalu meninggalkan masjid.

Puasa Hanya Menghambat Aktivitas

Filed under: Religion — pqr @ 10:34 am

Jika tidak menghambat aktivitas, mengapa jam kerja dikurangi? Kita bahkan melihat banyak pekerja kasar yang tidak menunaikan puasa karena jika mereka berpuasa maka tenaga yang diperlukan untuk bekerja akan berkurang, jika tenaga berkurang, maka pekerjaannya akan tidak optimal, jika pekerjaannya tidak optimal maka pendapatannya akan turun, jika pendapatannya turun maka kesejahteraan keluarganya juga semakin menyedihkan.

Jika pendapatku ini hanya aku potong sampai di sini, maka akan terjadi banyak pembenaran bagi setiap orang untuk tidak berpuasa. Padahal dari sekian banyak orang yang aku tanyain, apa yang memberatkan dalam berpuasa, tidak satu pun yang menjawab lapar dan dahaga. Jika hanya lapar dan dahaga, bagi kebanyakan manusia dewasa sangatlah mudah jika hanya sebatas terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Di Al-Qur’an disebutkan bahwa mereka yang diperbolehkan untuk berbuka puasa adalah mereka yang dalam keadaan sakit, termasuk di dalamnya adalah perempuan yang hamil atau menyusui dimana dikhawatirkan akan mempengaruhi bayinya. Juga orang yang sakit yang jika dia berpuasa maka akan membahayakan jiwanya, tentu saja yang mengetahui apakah puasa tersebut akan membahayakan jiwanya atau tidak adalah orang yang ahli dalam hal ini, misalnya dokter. Oleh karena itu, meskipun sakit gigi karena gigi berlobang adalah sakit yang amat sangat, tapi karena puasa tidak membuat sakitnya bertambah parah, maka tidak boleh dijadikan alasan bagi seseorang untuk membatalkan puasanya. Apalagi sakit koreng, panu, kadas dan semacamnya. Bagaimana dengan sakit hati? Justeru puasa akan mengobati sakit hati.

Termasuk pula dalam kategori orang yang diperbolehkan berbuka puasa dalam Al-Qur’an adalah orang yang sedang bepergian. Dimana puasa akan memberatkan perjalannya. Pada masa penaklukan Makkah, Rasulullaah salallaahu ‘alayhi wa sallam membatalkan puasanya, padahal telah melewati shalat Ashar. Hal ini dikarenakan beberapa sahabat yang berpuasa pada saat itu merasa berat jika meneruskan puasanya. Padahal pada malam sebelumnya, Rasulullaah salallaahu ‘alayhi wa sallam telah mengatakan agar mereka untuk tidak berpuasa jika dirasakan memberatkan. Sebagian dari mereka tidak berpuasa dan sebagian berpuasa karena Rasulullaah salallaahu ‘alayhi wa sallam berpuasa. Namun di akhir hari karena banyak diantara sahabat yang berpuasa merasa keberatan, akhirnya Rasulullaah sallallaahu ‘alayhi wa sallam berbuka agar mereka mengikuti berbuka. Bahkan Rasulullah tidak berpuasa sesampainya di Makkah hingga akhir Ramadhan (selama 10 hari).

So, kembali ke paragraf pertama. Apakah boleh mereka yang karena pekerjaannya berbuka puasa? Karena keterbatasan ilmuku, aku belum menemukan pendapat ‘alim ulama mengenai hal ini. Namun pemikiranku yang masih dipenuhi oleh kejahiliyahan ini mencoba meraba-raba, bahwa sebaiknya mereka memang membatasi pekerjaannya agar mampu berpuasa. Jika keterbatasan pekerjaan yang dilakukannya membuat pendapatannya berkurang, insyaAllaah, akan terpenuhi semua kebutuhannya dari jalan yang tidak ia sangka-sangka. Dan ini yang aku lakukan, dengan mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, AlhamduliLlah, beberapa hari masih sempat beli lauk untuk berbuka dan sahur di rumah.

Maraji’
- SalafiDb

Tuesday, 18 September, 2007

BANTAHAN: Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis²

Filed under: Food and Drink, Religion, Science, Weblogs — pqr @ 10:50 am

Bantahan: Berbuka puasa dengan yang manis-manis
Sep 12, ‘07 9:09 AM

Baru-baru ini ada tulisan yang disebarkan berkenaan berbuka puasa dengan yang manis-manis. Tulisan itu mengatakan bahwa tidak baik berbuka puasa dengan yang manis-manis karena gula yang kita gunakan merupakan bentuk karbohidrat sederhana. Sedangkan gula pada kurma yang biasa dikonsumsi Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam ketika berbuka merupakan bentuk karbohidrat kompleks.

Terus terang ada keraguan menerimanya karena kurma yang saya coba selalu manis sejak di Indonesia sampai di Arab Saudi, baik dalam bentuk ruthab atau tamr. Paling kalau ruthab ada sepet-sepetnya sedikit. Juga dalam artikel itu ada penukilan riwayat “Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang” yang seingat saya lemah (tapi bukan berarti lantas boleh makan berlebihan lho). Sebagian ikhwah juga menerangkan bahwa ada kekeliruan dalam komposisi gula kurma yang disebutkan artikel itu.

Sumber yang saya rasa cukup dapat dipercaya adalah dari FAO. Dari bibliorafinya dapat kita lihat bahwa dokumen itu bersumberkan dari banyak penelitian-penelitian di Timur Tengah. Juga yang dibahas adalah kurma segar dalam berbagai fasenya. Kita fokuskan pada fase ruthab dan tamr yang dikonsumsi Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam.

Lihat bagian artikel terkait

Terutama grafik yang di bawah ini

Fokuskan perhatian pada grafik perubahan komposisi. Total proporsi gula pada kurma memuncak pada fase ruthab, sedangkan secara bobot berpuncak di fase tamr. Sukrosa menurun karena berubah ke bentuk glukosa dan fruktosa dan ketiga bentuk itu adalah karbohidrat sederhana. Tentunya di sini bukan berarti lantas kita berlebih-lebihan dalam memakan yang manis-manis. Ingatlah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam mencukupkan diri beliau dengan tiga butir kurma dan air.

Jadi, berhati-hatilah dalam menyebarkan berita.
Allahu Ta’ala a’lam.

diambil dari sini

artikel lain: okezone

Next Page »

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.