Trust and Fear
Prenz,
Menurut saya, perasaan (emosi) selalu mengikuti hal-hal yang dipercaya
sebagai kebenaran. Hal yang dipercaya sebagai kebenaran disebut sebagai ‘belief
system’ dalam ilmu-ilmu sosial. Belief system tidak harus selalu berkaitan
dengan kepercayaan, tetapi mencakup segalanya tentang manusia dan hubungannnya
dengan diri sendiri, sesama, dan yang transenden.
Contohnya: apabila seorang pria memiliki sistem kepercayaan (belief system)
bahwa seorang suami harus selalu dilayani oleh istrinya, maka ia akan selalu
bertengkar dengan istrinya kalau istrinya itu tidak mau melayaninya. Dan
pertengkaran itu akan penuh dengan emosi, karena menurut logika pria itu, si
istri sudah salah dari semula.
Pada pihak lain, seorang pria yang memiliki sistem kepercayaan bahwa suami
dan istri berstatus sama, saling melayani, tidak akan meledak dengan emosional
ketika istrinya menolak melayani. Kan bisa gantian?
Jadi, emosi selalu mengikuti sistem kepercayaan (belief system). Sistem
kepercayaan yang diperinci dengan rasio/nalar ketika dihadapkan kepada fenomena
sosial tertentu akan menghasilkan emosi-emosi. Dengan kata lain, emosi mengikuti
gerak rasio/nalar. Rasio itu sendiri tidak bergerak di ruang vakum. Rasio selalu
bergerak di dalam belief system. Karenanya, untuk merubah sesuatu yang sudah
tidak dikehendaki, rubahlah sistem kepercayaannya (belief system-nya). Kalau
belief system-nya berubah, otomatis perilaku manusianya akan berubah. Emosi yang
menyertai perilaku juga berubah.
Ada macam-macam emosi. Rasa takut adalah salah satu dari dua kutub emosi.
Kutub yang satunya adalah cinta kasih. Diantara kedua kutub ini terdapat
bermacam nuansa emosi: dari rasa persaingan, rasa senasib, rasa curiga, rasa
cemburu… dsb. sampai rasa cinta universal dan rasa cinta romantik.
Macam-macam. Biasanya macam-macam emosi itu digunakan oleh kelompok kepentingan
berbeda-beda demi memenangkan persaingan. Persaingan bisa untuk memenangkan
cinta seorang gadis, atau pelayanan seks dari seorang pemuda; bisa untuk
memenangkan uang dari budget suatu instansi; bisa untuk memenangkan promosi
jabatan. Macam-macam.
Kalau tidak percaya lihat saja sinetron. Macam-macamlah emosi itu dan semua
pelaku saling tunggang-menunggangi untuk menjadi pemenang persaingan. Pecundang
akan gigit jari, dan pemenang akan tepuk tangan. Pemirsa TV akan ikut tepuk
tangan atau, paling tidak, ikut nyengir azzah. Nyengir seneng, geli, atau sebel.
Gak masalah… Yang jelas, gak ada cerita menang without ngasorake seperti
pepatah Jawa Kuno. Zaman sekarang orang yang menang bersorak-sorak. Yang kalah
gigit jari.
Karena ini semua adalah komedi manusia: baik di dalam sinetron maupun dalam
realita nyata kehidupan sehari-hari yang kita jalani, kita biasanya tidak
mempertanyakan lagi.
Yang mungkin bisa menjadi pertanyaan adalah manipulasi-manipulasi yang
dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperoleh uang atau hal tertentu dari
kita sebagai pengguna barang atau jasa tertentu. Kalau upaya menjual barang dan
jasa adalah pekerjaan yang halal, manipulasi yang menggunakan rasa takut adalah
perbuatan haram yang _dihalalkan_.
Contoh:
- Orang yang sedari kecil diajar untuk percaya surga dan neraka akan takut
untuk meninggalkan kelompok agamanya. Pemimpin agama yang lihay akan dengan
tidak tahu malu mengeluarkan ancamannya: “Kalau tidak mau masuk neraka, jangan
berani meninggalkan agama ini!” Jadi, si pengikut itu akan tetap di dalam
kelompok agamanya seumur hidup walaupun motivasinya sebenarnya cuma karena takut
masuk neraka. - Orang yang percaya kepada paranormal tidak berani menolak ketika disodori
keris pusaka penolak nasib sial walaupun harganya berjuta-juta. Si paranormal
dengan tidak tahu malu akan bilang: “Kalau tidak mau kena santet, perlu keris
ini. Cuma sekian… juta saja.” Dan dibelilah keris itu walaupun dengan
bersungut-sungut. Kenapa? Karena takut ucapan si paranormal benar. Daripada
kena, mendingan beli. - Dokter-dokter kandungan banyak panen dari bedah Caesar bertahun-tahun
terakhir ini. Apakah itu karena lubang keluar bayi di wanita-wanita sekarang
semakin menyempit? Nggak begitu juga. Tetapi, karena biaya lahir dengan bedah
Caesar berkali-kali lipat daripada lahir normal. Dan si wanita yang sudah
mengerang-ngerang perlu ditakut-takuti dulu: “Kalau tidak bedah Caesar, nanti
bisa sungsang.” Dan dibedahlah, sreeet.. sreeet… gampang khan, pake gunting
azzah. Dan berjuta-juta Rp mengalir. Derassszz… Kenapa? Karena takoet. - Psikolog jarang yang praktek memberikan konseling. Kalaupun praktek, jarang
yang netral. Kebanyakan psikolog mau memaksakan jalan pikirannya kepada kliennya
yang konsultasi, padahal seharusnya psikolog bersikap netral dan tidak melakukan
interferensi ke dalam sistem kepercayaan kliennya. Tetapi, banyak konflik juga
disana karena si klien takut menolak apa yang dipaksakan oleh psikolognya untuk
diterima. Alasannya apa? Takoet sakit jiwa. Jadi, psikolog yang otoriter bisa
memaksa kliennya untuk menjadi orang yang bukan dirinya sendiri dengan alasan
bahwa kalau tidak diikuti, si klien bisa sakit jiwa. Padahal, si psikolog
kemungkinan mengalami gangguan jiwa juga, tapi itu jarang dipertanyakan…
Contohnya misalnya: seorang remaja yang mengalami ketertarikan kepada sesama
jenis dipaksa untuk menekan habis kecenderungan itu. Si remaja ditakut-takutin
pake ajaran agama. Padahal, si psikolog harusnya jujur kepada kliennya itu bahwa
ketertarikan kepada sesama jenis adalah normal saja. Di dalam daftar American
Psychological Association tertulis jelas bahwa homoseksualitas dan biseksualitas
bukanlah penyakit.
Tetapi psikolog Indonesia jarang yang berani jujur. Beraninya takut-takutin
klien. Jadi, mungkin kita harus menyiapkan program mendidik psikolog _khusus_
untuk memberikan konseling kepada para psikolog.
Leo
diambil dari milis Psikologi