Sebuah cerpen yang diambil dari Cinta Laki-laki Biasa, sebuah buku karangan Asma Nadia.
Berisi 10 cerpen, 5 diantaranya pernah dimuat di berbagai antologi
cerpen bersama, dan 5 lainnya belum pernah dibukukan. Lewat 10 cerpen
itu Asma bercerita soal Cinta dan kesetiaan, soal Cinta dan kesetaraan,
Soal Cinta yang memberi banyak energi bagi pelakunya untuk melahirkan
banyak keajaiban. Soal Cinta.
Bagi teman-teman yang hendak membaca, disarankan untuk mencetaknya saja (print), karena akan sangat mahal membaca ini di warnet
Kepada Asma Nadia saya mohon maaf karena menayangkan salah satu cerpen Anda di sini.
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau
menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok kebelakang, hari-hari yang
dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,
melainkan menjadi milik banyak orang: Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga dan
teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu
neon 25 watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di
otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada
apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan?
menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detail dan
spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus
adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama
terjadi 3 bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya.
Arisan keluarga Nania anggap sebagai momen yang tepat, karena semua berkumpul,
bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga
membawa serta buntut mereka.
“Kamu pasti bercanda!”
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua,
disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga dan terakhir dari papa dan mama
membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang
melamarnya.
“Tidak ada yang lucu,” suara papa tegas. “papa hanya tidak mengira Rafli
berani melamar anak papa yang paling cantik!”
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat papa barusan adalah pertanda
baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang
mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang
pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
“Nania cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekedar tidak suka, melainkan sangat
tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
“Tapi kenapa?”
Sebab Rafli cuman laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan
biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat
biasa.
Sementara kamu, sebentar lagi meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lainpun
luar biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal
hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya
hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali
karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya
fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania cuma
punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup
hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania
bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di
belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih
belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak dimata
mereka.
Nania hanya merasakan cinta yang begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga
Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia
meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
“Tak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.
“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”
“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”
“Betul, kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya
sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah
menikah dan sebentar lagi punya anak.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka
beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal
Nania dan Rafli sudah memiliki sepasang orang anak. Keduanya menggemaskan. Rafli
bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu
sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.
“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu
memforsir diri.
“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Mas.”
Nania tidak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud
baik.
“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu
seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
ertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang,
uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan
Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak.
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan
mesra. Bisik orang di kantor, tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara
Nania, bisik papa dan mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu,
tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari
waktunya.
“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!”
Mula-mula dokter kandungan Nania memasukkan sejenis obat kedalam rahim Nania.
Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit
yang teramat sangat. Jika semua normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan
segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi dan
menunaikan shalat disisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua
Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama,
Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah
dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga nenit. Tapi pembukaan berjalan lambat
sekali.
“Baru pembukaan satu.”
“Belum ada perubahan, bu.”
“Sudah bertambah sedikit,”kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan
harapan.
“Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa
memiliki sense of humor yang tinggi.
Tiga puluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran
akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
“Masih pembukaan dua, pak!”
Rafli tercengang. Cemas tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak
sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak
sesuap nasi pun bisa ditelannya.
“Mas?”
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
kehidupan.
“Dokter?”
“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”
Mungkin?
Rafli dan Nia berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? bagaimana
jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena
Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak
kuasa merasa sendiri dari awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruang serba putih. sebuah sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter
itu. Sebuah lagu dimainkan. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan
itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat
yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki
itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
“Pendarahan hebat.”
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis, papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercengung
beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan
tak bisa di hentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
Setelah seminggu lebih Nania koma, selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarga yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh
menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari,
mereka sudah boleh membawanya pulang.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit,
kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukur pihak perusahaan tempat Rafli
bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor
tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil,
dibacakannya dekat telinga Nania yang berbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan
pengunjung lain yang kebetulan menjenguk, melihat lelaki dengan penampilan
sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan
kehadirannya.
“Nania, bangun, cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir
untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari, mengaji dekat Nania
sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku
kesukaan Nania dan membacakannya dengan suara pelan. Sambil tak bosan-bosannya
berbisik, “Nania, bangun, cinta?”
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan
Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
dimata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat
bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Diluar itu Rafli tak memerdulikan
yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin
kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi, gerak bibir, kernyitan kening, serta
gerakan-gerakan kecil lain diwajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu
lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat
Rafli adalah yang pertama di tangkap matanya.
Seakan telah begitu lama Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapnya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang
meleleh.
Asalka Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki
biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per
satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan
menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti
remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar terlihat cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia
ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak
perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu
menyaksikan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli
Setiap hari minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton
di bioskop, reaksi ke manapun Nania harus ikut.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania kesana kemari. Masih dengan senyum hangat
diantara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan,
juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi
pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh semua berbisik-bisik.
“Baik banget suaminya!”
“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”
“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”
“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandangnya dengan penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, papa dan
mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustasi,
merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di
luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu
begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.
Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya, Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semuanya,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah yang besar yang mereka tempati, kehidupan
yang lebih dari yang bisa dia syukuri, meski tubuhnya tak berfungsi sempurna,
meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir
dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang
tak pernah berubah, untuk Nania.