Beribu sudah dosaku, dan masih bertambah…
Beribu sudah taubatku, dan masih khianat…
Denyar-denyar di tiap syarafku masih saja mengirimkan pulsa-pulsa bergaung: “Apa yang bisa dilakukan setitik susu pada nila sebelanga?”
Satu kebaikan kutanam,
Berjuta dosa kutuai,
Sehingga kudengar lagi…
“Apa yang bisa dilakukan setitik susu pada nila sebelanga?”
Oh..
Setiap langkah bagai menginjak ladang jarum,
Memaksaku tetap terseok,
Dan kupaksakan tetap membungkam.
Ya…
Habis keluhku, tak habis peluhku,
Meski berbelalak, aku meraba.
Terik yang melegamkan rautku,
Menguapkan air mata,
Seperti menguapnya malu dan sesalku.
Masih berbisik “Apa yang bisa dilakukan setitik susu pada nila sebelanga?”
“Apakah itu akan menjadi hal terakhir yang engkau lakukan?”
Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang setiap aku melakukan sesuatu yang (pastinya) salah.
Ya, semenjak awal tahun 2007 ini, seringkali aku ‘mendengar’ pertanyaan itu menggaung dalam otakku. Dan yang menyebalkan adalah selalu saja pertanyaan itu membuat otakku berantakan, membuat otot-ototku kelu, melemaskan setiap sendiku.
Lebih menyebalkan lagi pertanyaan itu tidak pernah datang sebelum aku melakukan hal yang (pastinya) salah. Sehingga bisa menjadikan sebuah warning bagiku, bahwa yang akan aku lakukan adalah (pastinya) salah.
Tapi itu semua belum seberapa dibandingkan dengan apa yang terjadi setelah aku menguasai diri dari pertanyaan itu. Aku tidak dapat mengambil pelajaran dari kesalahan itu, masih saja aku mengulang kesalahan-kesalahan yang sama.
Bahkan ketika orang terbaikku bertanya, ‘Apa yang engkau cari?, selama ini yang kulihat hanya alasan, tanpa gerakan yang berarti’. Aku cuma bisa menjawab ‘Aku mencari alasan lain agar aku tetap seperti ini’.
So…
im so sorry to all my friends…
if i made mistake to You, i wish You knew that i didnt mean it, specialy to my Dj, its all about my fool.
for my friends that i ignored You, i want You understand that its temporary (i wish), just wish im not die before make changes.
And thanks for backing me up.