PQR

Friday, 26 September, 2008

Arrahim, Ar Rahmi keduanya berasal dari akar kata “Rahima”

Filed under: Religion — pqr @ 3:01 am

Menyambung post sebelumnya di sini setelah dapat email dari bunda Rahima di milis Syiar-Islam.

Shilaturrahim= Hubungan kasih sayang
Shilaturrahmi= penghubung uterus(tali pusar sang Ibu), dzurrahmi=yang punya hubungan kerabat.

Kedua kata diatas sama-sama berasal dari akar kata “Ra-Hi-Ma”(rahima)

Yang pertama : Rahima, rahmatan, marhamatan
Yang kedua : rahima, wa rahuma, rahman, rahaman, warahaamatan ruhimatilmar ah.

Yang dimaksud dalam AlQuran dan hadits adalah keduanya.

Memutuskan tali hubungan yang satu ikatan dengan ibu, karib kerabat tali darah
Memutuskan hubungan dengan selain kerabat tali darah.(orang lain)

Yang pasti, kita dilarang memutuskan hubungan dengan siapapun, baik dengan yang punya hubungan persaudaraan, tali darah, ataupun yang punya hubungan kasih sayang, selain saudara, yakni orang lain.

Kita justru dalam sebuah hadits, Rasulullah disuruh menjauh dari mereka yang mencoba menyuruh kita untuk memutuskan tali silaturrahm tersebut.

Saya sengaja tidak menyebutkan dengan jelas tulisan Shilaturrahm baik dengan tulisan “Silaturrahmi, ataupun silaturrahim”.

Karena apa, karena keduanya kita dilarang memutuskannya. saudara ataupun mereka yang punya hubungan kasih sayang selain saudara pertalian darah.

Suami istri bukan pertalian darah, tetapi Mushaharah(akibat perkawinan), juga dilarang memutuskannya bukan, selain apabila “bercerai dengan baik-baik”. Ada jalannya yang sudah diatur oleh Allah Ta’ala dan RasulNya.

Teman, sahabat, atasan, atau siapa saja orang lain, kita dilarang memutuskannya. Kecuali yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, semacam ahli Bid’ah, kita disuruh menjauhi orang tersebut. Juga kita disuruh menjauh dari orang-orang yang jahil, musyrik, juga disuruh menjauh dari mereka yang suka berkata laghw=perkataan sia-sia, mencela, mencaci maki, menghina dan sebagainya yang tidak ada manfaatnya sama sekali.

fasda’bimaa tukmar wa’arid ‘anilmusyrikiin
Wa’anillaghwi hum mu’ridhuun

(lakukan apa yang disuruh Allah atas kamu, dan jauhilah orang-orang musyrik, Dan mereka (hamba yang diberi kasih sayang oleh Allah ta’ala), selalu menjauhi (berpaling) dari perkataan yang sia-sia, semacam cacian, makian, hinaan, ejekan, dllnya.

Kalau ditanya orang mana yang artinya kasih sayang, maka jawabnya “Ar Rahim”. Mana yang artinya Uterus, jawabnya adalah “Ar rahmi”

Kedua kata sama-sama berasal dari akar kata yang sama yakni “Rahima”.

Ok.

Wassalamu’alaikum. Rahima.

Tuesday, 27 May, 2008

Silaturrahmi apa Silaturrahim?

Filed under: Religion — pqr @ 1:19 pm

silah berarti menyambung, rahim berarti persaudaraan, sedangkan rahmi berarti perut. sehingga lihat dulu acaranya, kalau acaranya nyambung perut, berarti itu silaturrahmi, tapi kalau acaranya dalam rangka menyambung persaudaraan, maka itu namanya SILATURRAHIM.

Saturday, 14 July, 2007

Jazakallah atau Jazakillah?

Filed under: Religion — pqr @ 4:19 am

Assalaamu`alaykum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh

“Jazakillah ya…”
“Jazakallah deh…”
“Jazakumullah, ok?”

Udah akrab kan dengan kata-kata di atas?, Tapi apa kita tau artinya? Atau kita cuma ngikut-ikutan?

Terima kasih pada saudaraku Ibnu Hadi yang pernah menjelaskan kepada warga milis assunnah mengenai hal ini.

Ass. Wr. Wb.

“JazakAllaah”… sering kita jumpai di berbagai milis, pengajian, dlsb. “JazaakAllaah” sebenarnya adalah bagian dari sebuah doa yg kita minta kpd Allaah bagi org yg menjadi perantara nikmat/kebaikan yg kita terima dari Allaah.

Dgn hanya menyebutkan “jazakAllaah”, adalah berdoa kpd Allaah tapi tdk menyebutkan apa permintaannya. Kita tahu bahwa sebagian syarat dikabulkannya doa adalah harus sungguh2, mengerti apa yg dimaksud, khusyuk, dst. Oleh karena itu marilah kita baca/tulis dgn lengkap. Misalnya “jazaakAllaahu khoiron”, dlsb.

Kalo kita coba artikan maka, “jazaa = semoga memberi/menambah”, “ka = engkau (lelaki tunggal)”, “Allaah = Allaah”, “khoiron = kebaikan”. Sehingga maksud doa tsb menjadi “semoga Allaah memberi/menambah kebaikan kpd engkau”.

Kalau kita mengikuti sunnahnya (misal yg ada dlm HR. Bukhori Kitab Tayamum, ato HR. Muslim kitab Haidh, Tirmidzi, Nasaa’i, Ibnu Maajah, Ahmad, dst), maka minimal ada:
jazaakAllaahu khoiron (ka = engkau, lelaki)
jazaakillaahu khoiron (ki = engkau, perempuan)
jazaakumullaahu khoiron (kum = kamu sekalian)
jazaahumullaahu khoiron (hum = mereka)

Al ‘ilmu qoblal qouli wal ‘amali = Ilmu sebelum membicarakan dan atau mengamalkan (minimal lihat Bukhori Kitabul-’ilmi), demikian itu sunnahnya. Jadi, saya mengingatkan kita semua, yakinkan kita mengetahui dgn benar dan sdh sesuai dgn dalilnya yg syah stiap apa2 yg akan kita amalkan. Jgn sekedar ikut2an saja dan jgn juga menambah-nambahi apa yg sdh ada contohnya dari al-hadits. Ingatlah pesan Rosulullah SAW: “Barang siapa mengada-ada (memperbaharui) dlm perkaraKu yg mana hal tsb tidak ada dlm perkaraKu maka yg demikian itu ditolak”. {HR. Abu Dawud, Juz 4:4606 Kitab Sunnah}. Jgn juga sembarang mengikuti apa yg biasa dilakukan seseorg. Pesan Rosulullah SAW “.. mengikutilah pada sahabatku, kemudian pada org2 *yg mengikuti* pd sahabatku, kemudian pd org2 *yg mengikuti org2 yg mengikuti* pd sahabatku, kemudian akan tersebar dusta..” {minimal lihat HR. Tirmidzi, Juz 3:2254, Kitabul-Fitan}.

Setiap manusia tdk terlepas dari khilaf. Jika anda ketika membaca tulisan ini, kemudian membuka referensi asli dari apa-apa yg saya tulis, anda telah berbuat banyak kebaikan. Minimal anda dpt memperbaiki kesalahan saya, jika kemudian anda mengutib dalil2 tsb utk org lain, anda telah terhindar dari golongan pendusta ato golongan org2 yg ikut menyebarkan dusta dan anda juga telah ikut menjaga kemurnian Islam yg berpegang teguh kpd kitaabAllaah wasunnata nabiyyihi.

Jazaakumullaahu khoiron

Ibnu Hadi

Disebutkan oleh Ibnu Hadi, ungkapan yang lebih baik adalah Jazakallaahu Khairan, atau Jazakillaahu Khairan, atau Jazakumullaahu Khairan, atau Jazahumullaahu khairan, bukan cuma Jazakallaah, atau cuma Jazakillaah atau cuma Jazakumullah, atau cuma Jazahumullah. Aku menambahkan, kata Katsiyran dapat ditambahkan di akhir, artinya “yang banyak”, jadi lengkapnya:
Jazakallaahu khairan katsiyran, atau
Jazakillaahu khairan katsiyran, atau
Jazakumullaahu khairan katsiyran, atau
Jazahumullaahu khairan katsiyran.

Sebenernya, e-mail yang dikirim oleh Ibnu Hadi masih ada kekurangan yang juga fatal, yaitu kalimat Ass. Wr. Wb., untuk hal ini telah aku tayangkan di sini sebagai koreksi.

Ng… sebenernya aku nulis ini karena ada kekaprahan yang salah pada ucapan ini, kita bermaksud berterima kasih kepada seseorang tapi ucapannya adalah seperti pembahasan di atas, karena kita ngga ngerti lalu kearab-araban jadinya yang diucapin adalah seperti yang di atas, padahal dalam bahasa Arab, terima kasih adalah “Sukran“, kalo terima kasih banyak “Sukran Katsiyran“. Walaupun begitu, kalimat yang aku bahas sebelumnya juga ndak salah jika digunakan untuk berterima kasih, hanya saja konteks terima kasihnya seperti pada arti yang telah diterangkan.

Hehehe… ndak apa-apa, selama kita mau belajar untuk menjadi lebih baik, ndak perlu takut salah, tapi kalo udah tau ilmunya, jangan salah ya…

Wassalaamu`alaykum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.