PQR

Tuesday, 16 September, 2008

Waktu Kita Masih Kecil

Filed under: Let's Think!, Weblogs — pqr @ 1:33 pm


Waktu kamu berumur 1 tahun,
dia menyuapi dan memandikanmu … sebagai balasannya … kau menangis sepanjang malam.


Waktu kamu berumur 2 tahun,dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..sebagai balasannya … kamu kabur waktu dia memanggilmu



Waktu kamu berumur 3 tahun,dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang … sebagai balasannya … kamu buang piring berisi makananmu ke lantai



Waktu kamu berumur 4 tahun,dia memberimu pensil warna … sebagai balasannya … kamu corat coret tembok rumah dan meja makan


Waktu kamu berumur 5 tahun,
dia membelikanmu baju-baju mah al dan indah..sebagai balasannya … kamu memakainya bermain di kubangan lumpur


Waktu kamu berumur 6 tahun,dia mengantarmu pergi ke sekolah … sebagai balasannya … kamu berteriak “NGGAK MAU …!”



Waktu kamu berumur 7 tahun,dia membelikanmu bola … sebagai balasannya ..kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu kamu berumur 8 tahun,dia memberimu es krim … sebagai dalasann ya ..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu


Waktu kamu berumur 9 tahun,dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..sebagai balasannya … kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar


Waktu kamu berumur 10 tahun,dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun … sebagai balasannya … kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam


Waktu kamu berumur 11 tahun,dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop … sebagai balasannya … kamu minta dia duduk di barisan lain


Waktu kamu berumur 12 tahun,dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa … sebagai balasannya … kamu tunggu sampai dia keluar rumah


Waktu kamu berumur 13 tahun,dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ..sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode


Waktu kamu berumur 14 tahun,dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan … sebagai balasannya … kamu nggak pernah menelponnya.


Waktu kamu berumur 15 tahun,pulang kerja dia ingin memelukmu …sebagai balasannya … kamu kunci pintu kamarmu


Waktu kamu berumur 16 tahun,dia mengajari kamu mengemudi mobil …sebagai balasannya … kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya


Waktu kamu berumur 17 tahun,dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya … kamu pakai telpon nonstop semalaman


waktu kamu berumur 18 tahun,dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya … kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun,dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertana … sebagai balasannya … kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.


Waktu kamu berumur 20 tahun,dia bertanya “Darimana saja seharian ini?”.. sebagai balasannya … kamu menjawab “Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang.”


Waktu kamu berumur 21 tahun,dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu … sebagai balasannya … kamu bilang “Aku nggak mau seperti kamu.”

Waktu kamu berumur 22 tahun,dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi … sebagai balasanmu ….. kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun,dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah
barumu … sebagai balasannya … kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun,dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ….. sebagai balasannya … kamu mengeluh “Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu.”

Waktu kamu berumur 25 tahun,dia membantumu membiayai pernikahanmu .. sebagai balasannya … kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun,dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu … sebagai balasannya … kamu katakan “Sekarang jamannya sudah beda.”

Waktu kamu berumur 40 tahun,dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu … sebagai balasannya kamu jawab “Aku sibuk sekali, nggak ada waktu.”


Waktu kamu berumur 50 tahun,
dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu … sebagai balasannya … kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang … dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, … dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA ..

JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA…. BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI

JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA… INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU

Saturday, 25 August, 2007

Ibu

Filed under: My Mind — pqr @ 1:34 pm

Ya Allaah…
Kabulkan segala doanya

Tiap malam, tiap ujung malam beliau bangun untuk shalat tahajud dan aku hanya meringkuk, menangis karena tidak tahu harus berbuat apa.
Jika aku terbangun untuk juga shalat, maka beliau harus mengalah untuk tidak bersujud kepadamu. Karena tidak cukup tempat di rumah kami untuk lebih dari seorang yang shalat pada jam tersebut.
Jika aku terbangun untuk melangkah ke masjid terdekat agar ibu tetap dapat bersujud, sepertinya bantal lebih menarik bagiku daripada sajadah.

Astaghfirullaah…
Astaghfirullaah…
Astaghfirullaah…

Kabulkan segala doanya, yaa Allaah.
Sampaikan padanya bahwa aku mencintainya sangat, sampaikan padanya karna aku tak sanggup mengatakannya. Malu diri ini.

Tunjukkan padaku untuk tidak terlalu mengejar dunia ini.
Tunjukkan padaku agar aku dapat menghemat tenagaku.
Agar tidak lelah saat aku ingin melangkahkan kakiku ke masjid pada waktu yang engkau istimewakan.
Agar aku dapat menemani ibuku untuk bersujud padaMu.

Kabulkan segala doanya…
Kabulkan segala doanya…
Kabulkan segala doanya, yaa Allaah…

Wednesday, 6 June, 2007

Aku pun malu…

Filed under: Weblogs — pqr @ 10:43 am

Assalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Kami memanggilnya bu Ismi, salah satu teman kuliahku. Orangnya ramah, senang bercanda, ceria, tapi bukan termasuk orang yang suka bermain-main dalam setiap masalah. Maksudku, dia adalah seorang yang tegas dalam hal tanggung jawab. Sungguh berbeda dengan aku yang… kalau dalam bahasa Jawa nggelendem, aku sulit mencari padana kata ‘nggelendem’ dalam bahasa Indonesia, jadi maaf untuk yang baca tulisan ini tapi ngga ngerti bahasa Jawa. Mungkin istilah yang paling mendekati adalah ‘tidak bersungguh-sungguh’.

Hal yang paling aku suka dari bu Ismi adalah selalu banyak kue di rumahnya :-) Teman-teman lain pun juga beranggapan demikian, meski mungkin kategori ini bukan menjadi yang paling mereka sukai, tapi semua sepakat bahwa hanya Allaah Subhanahu wa Ta’aala yang mampu membuat teman-teman kelaparan jika mampir ke rumah bu Ismi :-)

Senin sore (04/06/07) kemarin aku berkunjung ke rumah bu Ismi karena komputer anak sulungnya error dan aku diundang untuk memperbaikinya. Saat bertemu bu Ismi, Alhamdulillaah… ternyata beliau sudah melakukan persalinan ketiga. Aku tidak terlalu banyak ngobrol setelah dipersilahkan masuk karena anaknya sudah menyeretku ke sebuah CPU yang direbahkan dalam posisi aneh seperti habis dibongkar. Singkat cerita, setelah hampir satu jam aku mengajari cara membongkar dan memasang lagi tiap bagian CPU itu, aku memastikan bahwa tidak ada kerusakan yang berarti dari CPU tersebut. Kalaupun tadinya ngga mau nyala dan timbul bau gosong, dimungkinkan karena pada saat membersihkan, ada sudut tertentu yang malah debunya menggumpal dan membuat konsleting.

Selesai membetulkan CPU, aku kembali ke ruang tamu untuk sekedar ngobrol dengan bu Ismi. Sambil menyeruput kopi yang dihidangkan, (tak lupa dengan rakus mencomot kue yang ada) aku menanyakan kabar persalinannya.

“Laki-laki apa perempuan bu?”, aku bertanya. “Perempuan”, bu Ismi menjawab singkat yang kemudian aku timpali “Alhamdulillaah, lancar kan bu?”. “Iya mas Harun, lancar”, jawabnya, “tapi mahal…”

Semula aku memahami jawaban tersebut merupakan keluhan mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk persalinan dan hendak bertanya seberapa mahal namun entah mengapa yang keluar dari mulutku adalah “Mahal bagaimana bu?”, karena kulihat sepertinya beliau menunjukkan ekspresi menahan kesedihan, bukan mengeluh. Karena memang sepanjang yang aku tahu, bu Ismi bukan lah kelompok orang yang suka mengeluh kepada teman-temannya. Ternyata memang aku salah memahami, perkiraanku bahwa yang dimaksud bu Ismi ‘mahal’ merupakan biaya, adalah salah besar. “Ada kebocoran jantung…”, kata bu Ismi lirih.

Masyaallaah… ibaku pun menderu, orang seperti bu Ismi harus menghadapi hal seperti itu, dikaruniai seorang putri yang…
Bu Ismi pun bercerita ini itu mengenai putri bungsunya, bahwa dari foto ronsen tampak adanya rembesan darah, bahwa dia sangat menjaga agar si bungsu tidak menangis terlalu lama karena hal ini akan memacu kerja jantungnya dan rembesan akan semakin banyak, bahwa si bayi tidak bisa terlalu lama jika dimandikan, badannya menjadi biru… ya Allaah…

(aku tidak sanggup untuk menceritakan kembali lebih banyak lagi apa yang dituturkan bu Ismi)

Di akhir cerita, bu Ismi bertutur “Yaa… beginilah ma Harun, oleh Allaah diberi kepercayaan untuk menghadapi hal seperti ini”
Mencelos… Tiba-tiba saja dadaku sesak, perutku menjadi seperti berguncang, kutundukkan wajahku yang tiba-tiba menjadi gerah. Aku malu.

Bu Ismi, orang yang mendapatkan dua pahala jika membaca Al-Qur’an (insya Allaah), karena beliau masih terbata-bata (sumber), mampu mengucapkan kata yang membesarkan hatinya, tapi sekaligus menciutkan keakuanku sedemikian rupa. Ketabahan luar biasa dengan menganggap bahwa ujian (kuharap memang ujian) yang diberikan oleh Allaah Subhanahu wa Ta’aala merupakan bentuk kepercayaan Allaah Azza wa Jalla kepada dirinya untuk mampu menghadapi amanah serupa itu.

Aku pun segera berpamit, tidak sanggup lebih lama di rumah itu saking malunya, malu pada diri sendiri, malu pada orang-orang di sekitarku, malu pada Rabbku yang aku selalu mengeluh kepadaNya tanpa dibarengi usaha yang berarti untuk mengatasi keluhanku selama ini.

Ya Allaah, aku menyaksikan ketabahan orang yang terbata-bata saat membaca ayat-ayatMu sebagai tamparan serius pada kesia-siaan yang kulakukan selama ini. Sungguh Engkau Maha Segala-galanya telah memberikan aku pelajaran seperti ini.

Air mataku masih sempat menitik ketika kutuliskan cerita ini, bukan melulu karena iba, namun terlebih karena rasa malu yang membuat setiap organ tubuhku menjadi terasa tidak terkoodinasi dengan benar.

Semoga Allaah Rabbul ‘Alamiyn menguatkan hati orang-orang yang bersungguh-sungguh mengharapkan RidhoNya.

Wassalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.