Semilir angin sore yang menerpa pelataran Masjid Jami’ kota Malang sangat nikmat kurasakan ketika aku dan seorang teman bersantai sejenak setelah menunaikan shalat Ashar. Beberapa anak bermain-main diawasi oleh orang tua mereka. Seorang penjaga parkir berganti shif dengan rekannya yang beruntung dapat berjamaah shalat Ashar, sementara dia harus merelakan 26 pahala demi amanah dari orang yang menitipkan kendaraannya. Di sayap Utara… ah… beberapa akhwat…
“Suweger ya mas angine?”, temanku tiba-tiba nyeletuk.
“Iya seger, eh, iya angine seger”, aku terlonjak, karena kukira ia mengomentari apa yang barusan kupandangi. Duh… puasa-puasa gini ko malah sempat-sempatnya berangan panjang, di masjid lagi.
“Padahal tadi sumpek pol”, kata-kata temanku kini mantap terdengar setelah aku kembali ke alam sadarku. “Heran, katanya pas bulan puasa setan-setan pada dipenjara, kok malah gampang marah ya?”
“hm…”, aku bergunam, “Sebenarnya mudah marahnya kamu itu bukan karena dikompori ama setan, bahkan selama ini mungkin setan ngga pernah mengompori kamu untuk marah pada saat kamu menghadapi permasalahan yang sama, tapi dia membisiki untuk melakukan hal yang lebih buruk dari marah, misalnya, membuat strategi curang untuk membalas orang yang membuatmu marah. Kamu kan tau tentang permainan devide et impera-nya setan?”
“Ya, memang sih, kalo pas ngga puasa aneh juga ketika menghadapi permasalahan yang sama, malah tidak marah, tapi bener kata Sampeyan, aku malah berfikir buruk bagaimana caranya membalas kesewotan tersebut dengan cara yang lebih keji”
“Hehehe… Sebenarnya kamu mesti bersyukur, karena oleh setan kamu termasuk diperhitungkan, karena tidak mempengaruhi kamu dengan menyuruh marah.”
“Kok?”, tanya temanku.
“Ya, orang-orang yang ditakut-takuti setan dengan penampakan adalah mereka yang oleh setan sangat tidak diperhitungkan, karena iman mereka begitu tipis sehingga takut terhadap hal-hal seperti itu. Peringkat yang diatasnya adalah orang-orang yang bagi setan mudah dipengaruhi perilakunya secara langsung, misalnya ya marah itu tadi. Peringkat diatasnya lagi adalah orang-orang yang tahu kalau perilakunya tidak beres, maka itu dari setan sehingga mudah baginya untuk tidak mengikutinya, maka setan mempengaruhi pikirannya dengan berbagai bumbu strategi yang lebih halus untuk melakukan perilaku tidak beres sesuai dengan jalan pikiran orang tersebut. Peringkat selanjutnya adalah orang-orang yang mengetahui tipu muslihat setan, sehingga setan mempengaruhinya dari jalan orang-orang di sekitar agar mempengaruhi orang tersebut. Peringkat yang lebih tinggi lagi adalah jika jalan yang harus ditempuh oleh setan guna mempengaruhi orang tersebut adalah melalui musuh-musuh Allaah. Dan peringkat terakhir adalah para Nabi”
“Kok Sampeyan tahu yang gitu-gitu sih?”, temanku terheran-heran.
“Aku dapat info yang beginian dari mantan pengilmu hitam. Kalau dia mengatakan hal ini saat dia masih mengamalkan ilmu-ilmu gelap itu, aku ngga bakalan percaya, tapi karna dia mengatakan hal ini setelah dia bertaubat, aku percaya ajah”, paparku.
“Trus kenapa orang puasa jadi lebih mudah marah?”, temanku kembali menanyakan.
“Oh, ya… kalo dalam psikologi sih yang pernah aku pelajari, fisiologi orang lapar tuh emosinya cenderung ngga stabil. Hal ini dikarenakan salah satunya pasokan air dalam tubuh berkurang, karena berkurang darah jadi sedikit mengental, karena mengental jadi sedikit lebih lambat jalannya, karena jalannya lebih lambat sehingga pasokan nutrisi yang menjaga konsentrasi kita jadi ngga 100 persen. Karena konsentrasi ngga 100 persen makanya fungsi kendali terhadap emosi jadi terganggu, akhirnya gampanglah dia marah”.
“ooo… Trus sampeyan kira-kira masuk dalam golongan mana?”, tanya temenku.
“Apanya?”, aku bingung karna saking laparnya aku ngga konsentrasi, atau lebih tepatnya konsentrasiku terganggu oleh berlalunya akhwat di sayap Utara masjid menuju ke luar.
“Yang diperhitungkan setan!”
“Oh, sepertinya termasuk golongan kedua, aku sering marah-marah kan?”, selorohku karna masih memanjakan pikiranku ke serombongan akhwat yang berlalu meninggalkan masjid.