PQR

Tuesday, 16 September, 2008

Type Of Girls

Filed under: Tulisan Garing — pqr @ 1:33 pm

~*~Type Of Girls~*~

HARD DISK GIRLS:
she remembers everything, FOREVER
RAM GIRLS:
she forget about you, the moment turn her off
WINDOWS GIRLS:
everyone know that she can’t do a thing right,
but no one can live without her
SCREENSAVER GIRLS:
She is good for nothing but at least she is fun
INTERNET GIRLS:
Difficult to access
SERVER GIRLS:
Always busy when you need her.
MULTIMEDIA GIRLS:
She make horrible thing look beautiful
CD-ROM GIRLS:
She is always faster and faster.
EMAIL GIRLS:
Every ten things she says, nine are nonsense.
VIRUS GIRLS:
Also known as “wife”, =))

when you are not expecting her…she comes,

installs herself and uses all your resources.

If you try to uninstall her you will lose something,

if don’t try to uninstall her you will lose everything…

Tuesday, 27 May, 2008

Cuplikan dari Jomblo: Sebuah komedi cinta by Adhitya Mulya

Filed under: Books, My Mind, Tulisan Garing — pqr @ 1:01 pm

Agus dan Rita adalah tipikal pasangan pacar orang Sunda di mana sang pria memiliki panggilan ‘Aa’ dengan wanitanya ‘Neng’. Satu bulan pertama bagi Agus dan Rita adalah surga. Tiga bulan kemudian adalah panggilan bangun tidur bagi mereka dan mendekati 9 bulan pacaran, drama dimulai.
Pacaran dengan Rita lebih sulit dari merancang dimensi TORA (Take Off Runway Area) sebuah airport. Menentukan TORA, mudah. TORA untuk airport yang dirancang menerima pesawat kelas Boeing 737 lebih panjang dari TORA untuk pesawat kelas Fokker. Ada penuntunnya, ada tabelnya dan ada rumusnya. Bahkan ada asosiasi internasional yang mengatur dan memastikan semua terbangun dan ter-set-up dengan baik. Berpacaran dengan Rita, semua petunjuk datang dari wangsit dukun.

1. Cemburu
Rita menatap Agus dengan tajam. Kedua tangannya melipat defensif, menunjukkan sikap penuh permusuhan. Agus sedang mengonsumsi dosis harian menerima semprotan Rita. Satu isu kecil dapat berubah menjadi letusan gunung.
“Kenapa semalem Neng nelepon gak Aa’ bales?”
“Geulis (cantik)…, soalnya Aa’ semalem baru pulang jam 2.”
“Ngapain aja?” Mata Rita semakin tajam , membuat Agus merasa seperti imigran gelap yang sedang diinterogasi petugas imigrasi.
“Aa’…Aa’ semalem kan siaran.”
“ Kan sampe jam dua belas.”
“Abis itu, mengantarkan pulang Risa…” Kesalahan terbesar kebanyakan pria adalah kejujuran.
“Enak amat yah jadi Risa. Dianter kamu pulang malem-malem. Padahal kan dia bukan pacar kamu…“ Matanya semakin hostile.
Agus menggaruk-garuk kepalanya. Dia mulai mengerti maksud omongan Rita. Sudah saatnya wanita bersikap mandiri dan mampu pulang sendiri ke rumahnya di tengah malam melewati gang-gang penuh preman, maling pemerkosa. Belum lagi resiko dicabik-cabik anjing liar gila. Di tahap ini, pembantu Rita yang berprofesi ganda sebagai pengamat sinetron Indonesia secara transparan berpura-pura tidak menguping pertengkaran.
“Daerah rumah dia kan Cikaso. Gak aman.”
“Suruh dia pindah rumah dong. Biar kamu gak perlu anter-anter,“ ujar Rita sambil mengabaikan beberapa faktor kecil seperti: a. Bahwa mencari rumah baru sulit b. Harga rumah mahal
„Neng kenapa sih mesti cemburu?“
„Cemburu? Neng gak cemburu. Siapa yang cemburu? Apakah Neng terdengar seperti orang yang cemburu? Menurut kamu ini cemburu? Menurut kamu Neng cemburuan? Nggak!“ dengan desibel yang meningkat dari 8 kali level normal dengan dahi berkerut.

2. Dominasi
Ini adalah agenda keseharian Agus.
Pagi    - Antar Rita ke kampusnya.
Siang  - Mendatangi Rita di kampusnya, makan siang bersama.
Sore    - Menjemput Rita dari kampus.
Malam - Menelpon Rita.
Agus mulai jengah dengan aktivitas yang menuntut mobilisasi tinggi ini. Dia mengusulkan agar Rita juga pro-aktif untuk pergi ke kampus Agus sesekali dan mengurangi frekuensi pertemuan.
„Neng, kalo kayak gini terus, Aa’ bisa cacat permanen dan jatuh miskin.“
„Katanya sayang?“
„Gak mesti tiap hari kan ketemuan?”
“Kan kangen A’.”
“Kalo Neng kangen, ya Neng juga dong sekali-kali pergi ke kampus Aa’.”
„Nggak. Aa’ aja yang ke kampus Neng.“
„Ntar Aa’ kecapekan.“
„Kalo sebaliknya, Neng dong yang kecapekan.“
„AAAARRRGGGHHHHHHH“

3. Sensitifitas
„Neng keliatan gendut gak sih Aa’?“
„Nggak.“
„Liat dong ke Neng kalo bicara.“
„Oke.“
„Gendut Ah.“
„Nggak kok sayang.“
„Gendut.“
„Ya mungkin sedikit perlu fitness kali ya?“
„JADI MENURUT AA’, NENG GENDUT? TEGA!“
„Loh?“
„Apa liat-liat?“
„Tadi katanya disuruh liat.“
„Liatin saya gendut?“
„Aa’ minta obat tidur…4 butir…please.“
“Buat?”
“Bunuh diri.”
“Kenapa mau bunuh diri? Malu yah punya pacar gendut?“
„ARRRGGGHHHHH!!!“

4. Drama…drama…drama
„Halo?“
„Halo? Aa’ ya?“
„Iya sayang, Neng, Aa’ gak bisa ke rumah malem ini gak apa-apa ya?“
„Kenapa?“
„Aa’ mau pergi sama temen-temen. Bimo ulang tahun dan mau nraktir makan.“
„Nggak. Aa’ ke sini sekarang juga.“
„Tapi Neng, semua anak-anak pada ikutan.“
“Jadi Aa’ lebih seneng bergaul sama temen-temen Aa’ daripada sama Neng?”
„Bukan gitu, ketemu kamu kan udah tiap hari. Bimo ulang tahun kan cuman sekali setahun.“
„Bilang aja lebih sayang Bimo ketimbang sama Neng.“
„Nggak kok, kamuh gak nangkep nih esensinya.“
„Saya cuman sapi gila yang kamu gandeng kemana-mana.. ya, kan?“
„Sapi sih nggak ya..“
„Hu hu hu.. udah gak ada yang sayang lagi sama Neng di dunia ini..“
„Ehm…cup cup sayang…duh, bageur…..“
„Neng mending mati aja sekalian… giles aja Neng sekalian sama truk ayam, A’.“
„Aduh Neng, ini bukan masalah yang besar kok, cuman semalem aja.“
„Kalo bukan masalah yang besar berarti Aa’ bisa ke sini, kan?“
„…..“

5. Teman
„Saya gak suka sama sahabat-sahabat kamu. Yang satu bau. Yang satu logat Sumateranya nyeremin dan yang paling Neng gak suka, yang paling deket sama kamu itu… tukang maenin cewek!“

6. Makna ganda
Agus mulai menyadari perkataan Doni di UNJAT dulu bahwa terkadang wanita bisa menjadi makhluk yang kompleks. Mereka berjalan-jalan di shopping mall. Minggu depan adalah ulang tahun Rita.
“Ih, bagus yah sepatu ini,” ujar Rita menatap sepasang sepatu.
„Kamu mau Aa’ beliin ini untuk ulang tahun kamu?“
„Nggak lah nggak usah.“
„…..Oke…“ Agus melanjutkan jalan-jalannya, meninggalkan Rita yang masih berdiri di depan etalase sepatu.
„Kok segitu aja?“
„??“
„Paksa dong bujuk Neng supaya mau.“
“Kamu tadi baru bilang bahwa kamu nggak mau.”
„Iya, tapi bukan berarti saya gak mau, kan ?“
“Jadi kalo kamu bilang gak mau, itu artinya kamu mau?”
„Belum tentu juga.“
„Kalo kamu bilang mau, itu artinya kamu gak mau?“
„Belum tentu juga.“
Agus garuk-garuk.

Friday, 28 September, 2007

Puasa kok lebih gampang marah?

Filed under: My Mind, Religion — pqr @ 11:22 am

Semilir angin sore yang menerpa pelataran Masjid Jami’ kota Malang sangat nikmat kurasakan ketika aku dan seorang teman bersantai sejenak setelah menunaikan shalat Ashar. Beberapa anak bermain-main diawasi oleh orang tua mereka. Seorang penjaga parkir berganti shif dengan rekannya yang beruntung dapat berjamaah shalat Ashar, sementara dia harus merelakan 26 pahala demi amanah dari orang yang menitipkan kendaraannya. Di sayap Utara… ah… beberapa akhwat…

“Suweger ya mas angine?”, temanku tiba-tiba nyeletuk.

“Iya seger, eh, iya angine seger”, aku terlonjak, karena kukira ia mengomentari apa yang barusan kupandangi. Duh… puasa-puasa gini ko malah sempat-sempatnya berangan panjang, di masjid lagi.

“Padahal tadi sumpek pol”, kata-kata temanku kini mantap terdengar setelah aku kembali ke alam sadarku. “Heran, katanya pas bulan puasa setan-setan pada dipenjara, kok malah gampang marah ya?”

“hm…”, aku bergunam, “Sebenarnya mudah marahnya kamu itu bukan karena dikompori ama setan, bahkan selama ini mungkin setan ngga pernah mengompori kamu untuk marah pada saat kamu menghadapi permasalahan yang sama, tapi dia membisiki untuk melakukan hal yang lebih buruk dari marah, misalnya, membuat strategi curang untuk membalas orang yang membuatmu marah. Kamu kan tau tentang permainan devide et impera-nya setan?”

“Ya, memang sih, kalo pas ngga puasa aneh juga ketika menghadapi permasalahan yang sama, malah tidak marah, tapi bener kata Sampeyan, aku malah berfikir buruk bagaimana caranya membalas kesewotan tersebut dengan cara yang lebih keji”

“Hehehe… Sebenarnya kamu mesti bersyukur, karena oleh setan kamu termasuk diperhitungkan, karena tidak mempengaruhi kamu dengan menyuruh marah.”

“Kok?”, tanya temanku.

“Ya, orang-orang yang ditakut-takuti setan dengan penampakan adalah mereka yang oleh setan sangat tidak diperhitungkan, karena iman mereka begitu tipis sehingga takut terhadap hal-hal seperti itu. Peringkat yang diatasnya adalah orang-orang yang bagi setan mudah dipengaruhi perilakunya secara langsung, misalnya ya marah itu tadi. Peringkat diatasnya lagi adalah orang-orang yang tahu kalau perilakunya tidak beres, maka itu dari setan sehingga mudah baginya untuk tidak mengikutinya, maka setan mempengaruhi pikirannya dengan berbagai bumbu strategi yang lebih halus untuk melakukan perilaku tidak beres sesuai dengan jalan pikiran orang tersebut. Peringkat selanjutnya adalah orang-orang yang mengetahui tipu muslihat setan, sehingga setan mempengaruhinya dari jalan orang-orang di sekitar agar mempengaruhi orang tersebut. Peringkat yang lebih tinggi lagi adalah jika jalan yang harus ditempuh oleh setan guna mempengaruhi orang tersebut adalah melalui musuh-musuh Allaah. Dan peringkat terakhir adalah para Nabi”

“Kok Sampeyan tahu yang gitu-gitu sih?”, temanku terheran-heran.

“Aku dapat info yang beginian dari mantan pengilmu hitam. Kalau dia mengatakan hal ini saat dia masih mengamalkan ilmu-ilmu gelap itu, aku ngga bakalan percaya, tapi karna dia mengatakan hal ini setelah dia bertaubat, aku percaya ajah”, paparku.

“Trus kenapa orang puasa jadi lebih mudah marah?”, temanku kembali menanyakan.

“Oh, ya… kalo dalam psikologi sih yang pernah aku pelajari, fisiologi orang lapar tuh emosinya cenderung ngga stabil. Hal ini dikarenakan salah satunya pasokan air dalam tubuh berkurang, karena berkurang darah jadi sedikit mengental, karena mengental jadi sedikit lebih lambat jalannya, karena jalannya lebih lambat sehingga pasokan nutrisi yang menjaga konsentrasi kita jadi ngga 100 persen. Karena konsentrasi ngga 100 persen makanya fungsi kendali terhadap emosi jadi terganggu, akhirnya gampanglah dia marah”.

“ooo… Trus sampeyan kira-kira masuk dalam golongan mana?”, tanya temenku.

“Apanya?”, aku bingung karna saking laparnya aku ngga konsentrasi, atau lebih tepatnya konsentrasiku terganggu oleh berlalunya akhwat di sayap Utara masjid menuju ke luar.

“Yang diperhitungkan setan!”

“Oh, sepertinya termasuk golongan kedua, aku sering marah-marah kan?”, selorohku karna masih memanjakan pikiranku ke serombongan akhwat yang berlalu meninggalkan masjid.

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.