PQR

Tuesday, 16 September, 2008

10 Things I Hate About You

Filed under: Film — pqr @ 1:42 pm


“10 Things I Hate About You” (1999)

Katarina “Kat” Stratford Delivers ‘Hate’ Poem in Class

Audio mp3 delivered by Julia Stiles

I hate the way you talk to me and the way you cut your hair.

I hate the way you drive my car;

I hate it when you stare.

I hate your big dumb combat boots and the way you read my mind.

I hate you so much it makes me sick. It even makes me rhyme.

I hate it — I hate the way you’re always right;

I hate it when you lie.

I hate it when you make me laugh;

even worse when you make me cry.

I hate it when you’re not around

and the fact that you didn’t call.

But mostly I hate the way I don’t hate you –




not even close, not even a little bit, not even at all.

10 Things I Hate About You Transcript

taken from here

Hadiah Terindah

Filed under: Uncategorized — pqr @ 1:37 pm

Hadiah Terindah

Kehadiran

Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang bisa juga hadir lewat telepon, foto, atau fax. Namun dengan berada di sampingnya, dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih utyh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran sebagai pembaha kebahagiaan.


Mendengar

Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.


Diam

Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik, bahkan mengomel.


Kebebasan

Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah “Kau bebas berbuat semaumu”. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.


Keindahan

Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika mengkadokannya tiap hari! Selain juga keindahan penampilan pribadi.


Tanggapan Positif

Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negative terhadap pikiran, sikap, atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.


Kesediaan Mengalah

Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila memikirkan hal ini, berarti siap memberikan kado “kesediaan mengalah”. Okelah, mungkin kesal atau marah karena telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa musti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.


Senyuman

Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan syarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali kita menghadiahkan senyuman manis pada orang yang kita kasihi?



Taken from : Resonansi

“…. dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al Baqarah: 58)

Tuesday, 27 May, 2008

Cuplikan dari Jomblo: Sebuah komedi cinta by Adhitya Mulya

Filed under: Books, My Mind, Tulisan Garing — pqr @ 1:01 pm

Agus dan Rita adalah tipikal pasangan pacar orang Sunda di mana sang pria memiliki panggilan ‘Aa’ dengan wanitanya ‘Neng’. Satu bulan pertama bagi Agus dan Rita adalah surga. Tiga bulan kemudian adalah panggilan bangun tidur bagi mereka dan mendekati 9 bulan pacaran, drama dimulai.
Pacaran dengan Rita lebih sulit dari merancang dimensi TORA (Take Off Runway Area) sebuah airport. Menentukan TORA, mudah. TORA untuk airport yang dirancang menerima pesawat kelas Boeing 737 lebih panjang dari TORA untuk pesawat kelas Fokker. Ada penuntunnya, ada tabelnya dan ada rumusnya. Bahkan ada asosiasi internasional yang mengatur dan memastikan semua terbangun dan ter-set-up dengan baik. Berpacaran dengan Rita, semua petunjuk datang dari wangsit dukun.

1. Cemburu
Rita menatap Agus dengan tajam. Kedua tangannya melipat defensif, menunjukkan sikap penuh permusuhan. Agus sedang mengonsumsi dosis harian menerima semprotan Rita. Satu isu kecil dapat berubah menjadi letusan gunung.
“Kenapa semalem Neng nelepon gak Aa’ bales?”
“Geulis (cantik)…, soalnya Aa’ semalem baru pulang jam 2.”
“Ngapain aja?” Mata Rita semakin tajam , membuat Agus merasa seperti imigran gelap yang sedang diinterogasi petugas imigrasi.
“Aa’…Aa’ semalem kan siaran.”
“ Kan sampe jam dua belas.”
“Abis itu, mengantarkan pulang Risa…” Kesalahan terbesar kebanyakan pria adalah kejujuran.
“Enak amat yah jadi Risa. Dianter kamu pulang malem-malem. Padahal kan dia bukan pacar kamu…“ Matanya semakin hostile.
Agus menggaruk-garuk kepalanya. Dia mulai mengerti maksud omongan Rita. Sudah saatnya wanita bersikap mandiri dan mampu pulang sendiri ke rumahnya di tengah malam melewati gang-gang penuh preman, maling pemerkosa. Belum lagi resiko dicabik-cabik anjing liar gila. Di tahap ini, pembantu Rita yang berprofesi ganda sebagai pengamat sinetron Indonesia secara transparan berpura-pura tidak menguping pertengkaran.
“Daerah rumah dia kan Cikaso. Gak aman.”
“Suruh dia pindah rumah dong. Biar kamu gak perlu anter-anter,“ ujar Rita sambil mengabaikan beberapa faktor kecil seperti: a. Bahwa mencari rumah baru sulit b. Harga rumah mahal
„Neng kenapa sih mesti cemburu?“
„Cemburu? Neng gak cemburu. Siapa yang cemburu? Apakah Neng terdengar seperti orang yang cemburu? Menurut kamu ini cemburu? Menurut kamu Neng cemburuan? Nggak!“ dengan desibel yang meningkat dari 8 kali level normal dengan dahi berkerut.

2. Dominasi
Ini adalah agenda keseharian Agus.
Pagi    - Antar Rita ke kampusnya.
Siang  - Mendatangi Rita di kampusnya, makan siang bersama.
Sore    - Menjemput Rita dari kampus.
Malam - Menelpon Rita.
Agus mulai jengah dengan aktivitas yang menuntut mobilisasi tinggi ini. Dia mengusulkan agar Rita juga pro-aktif untuk pergi ke kampus Agus sesekali dan mengurangi frekuensi pertemuan.
„Neng, kalo kayak gini terus, Aa’ bisa cacat permanen dan jatuh miskin.“
„Katanya sayang?“
„Gak mesti tiap hari kan ketemuan?”
“Kan kangen A’.”
“Kalo Neng kangen, ya Neng juga dong sekali-kali pergi ke kampus Aa’.”
„Nggak. Aa’ aja yang ke kampus Neng.“
„Ntar Aa’ kecapekan.“
„Kalo sebaliknya, Neng dong yang kecapekan.“
„AAAARRRGGGHHHHHHH“

3. Sensitifitas
„Neng keliatan gendut gak sih Aa’?“
„Nggak.“
„Liat dong ke Neng kalo bicara.“
„Oke.“
„Gendut Ah.“
„Nggak kok sayang.“
„Gendut.“
„Ya mungkin sedikit perlu fitness kali ya?“
„JADI MENURUT AA’, NENG GENDUT? TEGA!“
„Loh?“
„Apa liat-liat?“
„Tadi katanya disuruh liat.“
„Liatin saya gendut?“
„Aa’ minta obat tidur…4 butir…please.“
“Buat?”
“Bunuh diri.”
“Kenapa mau bunuh diri? Malu yah punya pacar gendut?“
„ARRRGGGHHHHH!!!“

4. Drama…drama…drama
„Halo?“
„Halo? Aa’ ya?“
„Iya sayang, Neng, Aa’ gak bisa ke rumah malem ini gak apa-apa ya?“
„Kenapa?“
„Aa’ mau pergi sama temen-temen. Bimo ulang tahun dan mau nraktir makan.“
„Nggak. Aa’ ke sini sekarang juga.“
„Tapi Neng, semua anak-anak pada ikutan.“
“Jadi Aa’ lebih seneng bergaul sama temen-temen Aa’ daripada sama Neng?”
„Bukan gitu, ketemu kamu kan udah tiap hari. Bimo ulang tahun kan cuman sekali setahun.“
„Bilang aja lebih sayang Bimo ketimbang sama Neng.“
„Nggak kok, kamuh gak nangkep nih esensinya.“
„Saya cuman sapi gila yang kamu gandeng kemana-mana.. ya, kan?“
„Sapi sih nggak ya..“
„Hu hu hu.. udah gak ada yang sayang lagi sama Neng di dunia ini..“
„Ehm…cup cup sayang…duh, bageur…..“
„Neng mending mati aja sekalian… giles aja Neng sekalian sama truk ayam, A’.“
„Aduh Neng, ini bukan masalah yang besar kok, cuman semalem aja.“
„Kalo bukan masalah yang besar berarti Aa’ bisa ke sini, kan?“
„…..“

5. Teman
„Saya gak suka sama sahabat-sahabat kamu. Yang satu bau. Yang satu logat Sumateranya nyeremin dan yang paling Neng gak suka, yang paling deket sama kamu itu… tukang maenin cewek!“

6. Makna ganda
Agus mulai menyadari perkataan Doni di UNJAT dulu bahwa terkadang wanita bisa menjadi makhluk yang kompleks. Mereka berjalan-jalan di shopping mall. Minggu depan adalah ulang tahun Rita.
“Ih, bagus yah sepatu ini,” ujar Rita menatap sepasang sepatu.
„Kamu mau Aa’ beliin ini untuk ulang tahun kamu?“
„Nggak lah nggak usah.“
„…..Oke…“ Agus melanjutkan jalan-jalannya, meninggalkan Rita yang masih berdiri di depan etalase sepatu.
„Kok segitu aja?“
„??“
„Paksa dong bujuk Neng supaya mau.“
“Kamu tadi baru bilang bahwa kamu nggak mau.”
„Iya, tapi bukan berarti saya gak mau, kan ?“
“Jadi kalo kamu bilang gak mau, itu artinya kamu mau?”
„Belum tentu juga.“
„Kalo kamu bilang mau, itu artinya kamu gak mau?“
„Belum tentu juga.“
Agus garuk-garuk.

Next Page »

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.