PQR

Tuesday, 27 May, 2008

Silaturrahmi apa Silaturrahim?

Filed under: Religion — pqr @ 1:19 pm

silah berarti menyambung, rahim berarti persaudaraan, sedangkan rahmi berarti perut. sehingga lihat dulu acaranya, kalau acaranya nyambung perut, berarti itu silaturrahmi, tapi kalau acaranya dalam rangka menyambung persaudaraan, maka itu namanya SILATURRAHIM.

Cuplikan dari Jomblo: Sebuah komedi cinta by Adhitya Mulya

Filed under: Books, My Mind, Tulisan Garing — pqr @ 1:01 pm

Agus dan Rita adalah tipikal pasangan pacar orang Sunda di mana sang pria memiliki panggilan ‘Aa’ dengan wanitanya ‘Neng’. Satu bulan pertama bagi Agus dan Rita adalah surga. Tiga bulan kemudian adalah panggilan bangun tidur bagi mereka dan mendekati 9 bulan pacaran, drama dimulai.
Pacaran dengan Rita lebih sulit dari merancang dimensi TORA (Take Off Runway Area) sebuah airport. Menentukan TORA, mudah. TORA untuk airport yang dirancang menerima pesawat kelas Boeing 737 lebih panjang dari TORA untuk pesawat kelas Fokker. Ada penuntunnya, ada tabelnya dan ada rumusnya. Bahkan ada asosiasi internasional yang mengatur dan memastikan semua terbangun dan ter-set-up dengan baik. Berpacaran dengan Rita, semua petunjuk datang dari wangsit dukun.

1. Cemburu
Rita menatap Agus dengan tajam. Kedua tangannya melipat defensif, menunjukkan sikap penuh permusuhan. Agus sedang mengonsumsi dosis harian menerima semprotan Rita. Satu isu kecil dapat berubah menjadi letusan gunung.
“Kenapa semalem Neng nelepon gak Aa’ bales?”
“Geulis (cantik)…, soalnya Aa’ semalem baru pulang jam 2.”
“Ngapain aja?” Mata Rita semakin tajam , membuat Agus merasa seperti imigran gelap yang sedang diinterogasi petugas imigrasi.
“Aa’…Aa’ semalem kan siaran.”
“ Kan sampe jam dua belas.”
“Abis itu, mengantarkan pulang Risa…” Kesalahan terbesar kebanyakan pria adalah kejujuran.
“Enak amat yah jadi Risa. Dianter kamu pulang malem-malem. Padahal kan dia bukan pacar kamu…“ Matanya semakin hostile.
Agus menggaruk-garuk kepalanya. Dia mulai mengerti maksud omongan Rita. Sudah saatnya wanita bersikap mandiri dan mampu pulang sendiri ke rumahnya di tengah malam melewati gang-gang penuh preman, maling pemerkosa. Belum lagi resiko dicabik-cabik anjing liar gila. Di tahap ini, pembantu Rita yang berprofesi ganda sebagai pengamat sinetron Indonesia secara transparan berpura-pura tidak menguping pertengkaran.
“Daerah rumah dia kan Cikaso. Gak aman.”
“Suruh dia pindah rumah dong. Biar kamu gak perlu anter-anter,“ ujar Rita sambil mengabaikan beberapa faktor kecil seperti: a. Bahwa mencari rumah baru sulit b. Harga rumah mahal
„Neng kenapa sih mesti cemburu?“
„Cemburu? Neng gak cemburu. Siapa yang cemburu? Apakah Neng terdengar seperti orang yang cemburu? Menurut kamu ini cemburu? Menurut kamu Neng cemburuan? Nggak!“ dengan desibel yang meningkat dari 8 kali level normal dengan dahi berkerut.

2. Dominasi
Ini adalah agenda keseharian Agus.
Pagi    - Antar Rita ke kampusnya.
Siang  - Mendatangi Rita di kampusnya, makan siang bersama.
Sore    - Menjemput Rita dari kampus.
Malam - Menelpon Rita.
Agus mulai jengah dengan aktivitas yang menuntut mobilisasi tinggi ini. Dia mengusulkan agar Rita juga pro-aktif untuk pergi ke kampus Agus sesekali dan mengurangi frekuensi pertemuan.
„Neng, kalo kayak gini terus, Aa’ bisa cacat permanen dan jatuh miskin.“
„Katanya sayang?“
„Gak mesti tiap hari kan ketemuan?”
“Kan kangen A’.”
“Kalo Neng kangen, ya Neng juga dong sekali-kali pergi ke kampus Aa’.”
„Nggak. Aa’ aja yang ke kampus Neng.“
„Ntar Aa’ kecapekan.“
„Kalo sebaliknya, Neng dong yang kecapekan.“
„AAAARRRGGGHHHHHHH“

3. Sensitifitas
„Neng keliatan gendut gak sih Aa’?“
„Nggak.“
„Liat dong ke Neng kalo bicara.“
„Oke.“
„Gendut Ah.“
„Nggak kok sayang.“
„Gendut.“
„Ya mungkin sedikit perlu fitness kali ya?“
„JADI MENURUT AA’, NENG GENDUT? TEGA!“
„Loh?“
„Apa liat-liat?“
„Tadi katanya disuruh liat.“
„Liatin saya gendut?“
„Aa’ minta obat tidur…4 butir…please.“
“Buat?”
“Bunuh diri.”
“Kenapa mau bunuh diri? Malu yah punya pacar gendut?“
„ARRRGGGHHHHH!!!“

4. Drama…drama…drama
„Halo?“
„Halo? Aa’ ya?“
„Iya sayang, Neng, Aa’ gak bisa ke rumah malem ini gak apa-apa ya?“
„Kenapa?“
„Aa’ mau pergi sama temen-temen. Bimo ulang tahun dan mau nraktir makan.“
„Nggak. Aa’ ke sini sekarang juga.“
„Tapi Neng, semua anak-anak pada ikutan.“
“Jadi Aa’ lebih seneng bergaul sama temen-temen Aa’ daripada sama Neng?”
„Bukan gitu, ketemu kamu kan udah tiap hari. Bimo ulang tahun kan cuman sekali setahun.“
„Bilang aja lebih sayang Bimo ketimbang sama Neng.“
„Nggak kok, kamuh gak nangkep nih esensinya.“
„Saya cuman sapi gila yang kamu gandeng kemana-mana.. ya, kan?“
„Sapi sih nggak ya..“
„Hu hu hu.. udah gak ada yang sayang lagi sama Neng di dunia ini..“
„Ehm…cup cup sayang…duh, bageur…..“
„Neng mending mati aja sekalian… giles aja Neng sekalian sama truk ayam, A’.“
„Aduh Neng, ini bukan masalah yang besar kok, cuman semalem aja.“
„Kalo bukan masalah yang besar berarti Aa’ bisa ke sini, kan?“
„…..“

5. Teman
„Saya gak suka sama sahabat-sahabat kamu. Yang satu bau. Yang satu logat Sumateranya nyeremin dan yang paling Neng gak suka, yang paling deket sama kamu itu… tukang maenin cewek!“

6. Makna ganda
Agus mulai menyadari perkataan Doni di UNJAT dulu bahwa terkadang wanita bisa menjadi makhluk yang kompleks. Mereka berjalan-jalan di shopping mall. Minggu depan adalah ulang tahun Rita.
“Ih, bagus yah sepatu ini,” ujar Rita menatap sepasang sepatu.
„Kamu mau Aa’ beliin ini untuk ulang tahun kamu?“
„Nggak lah nggak usah.“
„…..Oke…“ Agus melanjutkan jalan-jalannya, meninggalkan Rita yang masih berdiri di depan etalase sepatu.
„Kok segitu aja?“
„??“
„Paksa dong bujuk Neng supaya mau.“
“Kamu tadi baru bilang bahwa kamu nggak mau.”
„Iya, tapi bukan berarti saya gak mau, kan ?“
“Jadi kalo kamu bilang gak mau, itu artinya kamu mau?”
„Belum tentu juga.“
„Kalo kamu bilang mau, itu artinya kamu gak mau?“
„Belum tentu juga.“
Agus garuk-garuk.

Monday, 5 May, 2008

Ya Allah, Alangkah Bahagianya Calon Suamiku Itu…

Filed under: Religion, Weblogs — pqr @ 7:31 am

Sebuah wasiat bagi kita semua, terutama para pemuda yang masih membujang seperti diriku, juga untuk seorang teman agar mengetahui darimana namanya didapat.



Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.”Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.

“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.

Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”

“Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini? bukankah lebih disuruh masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah..!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”

Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”

“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?”

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”

Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”

Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.? (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”(QS 3: 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”


Sumber: Hudzaifah.org

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.