PQR

Friday, 18 April, 2008

Low Trust Society

Filed under: My Mind, Weblogs — pqr @ 5:03 pm

Oleh:Rhenald Kasali

Saya baru saja memeriksa ujian mahasiswa saya. Ketika akan menyerahkan nilai
akhir Mereka, saya terpaksa menoleh kepada berita acara ujian yang mencantumkan
nama beserta tanda tangan mereka masing-masing. Astaga. Tak Ada satu pun nama
yang dapat saya kenali dari tanda tangannya. Hal ini mengingatkan saya pada
peristiwa unik yang saya alami hampir tujuh tahun silam ketika baru saja memulai
program doktoral saya di Amerika Serikat.

Baru tiba beberapa hari, adviser saya menyuruh saya membuka bank account di
bank mana saja di kota itu. Saya pun menurutinya. Maklum, tanpa punya buku cek,
hidup di Amerika akan terasa sulit. Hampir semua transaksi dilakukan melalui
pos. Bayar listrik, telepon, air, tagihan kartu kredit, beli buku, bayar pajak,
kena tiket lalu lintas (tilang), sampai bayar uang sekolah. Semuanya menggunakan
cek. Tanpa cek, hidup di Amerika kok rasanya susah sekali.

Setelah punya bank account dan mulai berbelanja dengan menggunakan cek,
ternyata saya pun mengalami kesulitan. Pasalnya, petugas bank memanggil saya
karena mengalami kesulitan membaca tanda tangan saya. Saya mencoba
menjelaskannya bahwa itu benar tanda tangan milik saya, dan saya melakukannya
kembali di depan petugas itu. Petugas tetap menolak dan mengatakan itu bukan
tanda tangan. Kalau bukan tanda tangan lantas apa?

“Itu urek-urek!”ujarnya sambil tersenyum. Sejak itu saya pun mulai berlatih
membuat tanda tangan baru, yaitu tanda tangan yang namanya mudah
teridentifikasi. Maka, sejak saat itu saya mulai terbiasa memiliki dua jenis
tanda tangan. Saya menyebutnya satu tanda tangan lokal (yang dikatakan urek-urek
tadi) dan satu lagi tanda tangan Amerika. Kalau Anda pernah hadir dalam seminar
saya dan meminta saya menandatangani buku saya yang Anda baru beli, Anda pasti
ingat bahwa saya selalu mengatakan itu adalah tanda tangan Amerika: mudah dibaca
dan diidentifikasi. Ada juga pembaca yang minta dua-duanya, dan ada kalanya saya
pun meluluskannya. Tanda tangan lokal itu biasanya hanya saya gunakan untuk
urusan bank Dan menandatangani transkrip nilai mahasiswa.

Dalam salah satu seminar saya pernah meminta agar para peserta menggoreskan
tanda tangannya di atas kertas dan meminta rekan di sebelahnya yang baru
dikenalnya mengenali nama mereka. Ternyata tak banyak di antara mereka yang
dapat mengenali nama orang dari tanda tangannya. Ketika ditanya mengapa mereka
membuat tanda tangan seruwet itu, semuanya menjawab bak koor: “Biar tidak mudah
ditiru orang lain.”

Mengapa kita semua melakukan hal yang sama? Mudah ditebak jawabnya.

Sejak kecil Kita telah diajari orang-orang tua dan guru-guru Kita agar tidak
mudah percaya pada orang lain. “Buatlah tanda tangan yang tidak mudah ditiru
agar jangan sampai dipalsukan orang lain.” Kita menurutinya, dan tanpa kita
sadari roh-roh ketidakpercayaan ini sudah melekat dalam pikiran kita. “Trust,”
kata Francis Fukuyama, adalah “the social virtues and the creation of
prosperity.” Rasa percaya adalah suatu ikatan sosial yang penting untuk
menciptakan kemakmuran. Kalau tidak ada rasa percaya, mestinya tidak ada bisnis.
Bagaimana mungkin kita berbinsis dengan orang yang tidak Kita percaya? Rasa
percaya itu pula yang akan menentukan bangunan organisasi perusahaan saudara.
Makin rendah rasa percaya kita terhadap orang lain, makin banyak pula kita
melibatkan sanak saudara kita, teman sealmamater, sesuku dan sebagainya terlibat
dalam bisnis kita. Kita makin menutup pintu bagi orang lain.

Dan akibatnya potensi kita untuk menjadi besar akan terhambat.

Pengalaman lainnya yang saya dapatkan di Amerika barangkali dapat menjelaskan
betapa berbedanya tingkat rasa percaya. Menjelang pulang ke tanah air, setelah
menyelesaikan program studi, saya pun melakukan moving sale melego barang-barang
yang nilai bukunya masih cukup tinggi.

Misalnya saja Ada sebuah dish washer (mesin pencuci piring) elektrik yang
usianya baru tiga tahun Dan nilainya masih cukup tinggi namun harus dilepas
dengan harga yang sangat murah. Pembelinya tentu saja masyarakat komunitas
tempat tinggal kami, yang umumnya adalah keluarga muda atau para mahasiswa asing
yang dari mancanegara. Kalau calon pembelinya datang dari negara-negara seperti
Rusia, Yugoslavia, Ceko, Turki, Portugal, Brazil, Irak, Pakistan, India, atau
negara-negara Afrika, biasanya transaksi berjalan tersendat-sendat. Mereka
umumnya tidak percaya terhadap kualitas mesin (apakah masih tetap baik) dan
harga yang ditawarkan. Mereka mengutak-atik mesin, menghabiskan waktu
berjam-jam, mengajukan pertanyaan, lalu menawar di bawah separo dari harga yang
ditawarkan. Prosesnya sama seperti Anda menawar harga sepasang sepatu di pasar
Senen atau pasar lainnya di Indonesia. Dan akhirnya pun dapat diterka: tidak ada
transaksi. Hal yang berbeda dialami kalau pembelinya berasal dari negara-negara
yang barangkali dapat kita sebut sebagai high trust society, seperti Amerika,
Inggris, Finlandia, bahkan Jepang yang rata-rata sudah lebih makmur hidupnya.
Mereka cuma bertanya tiga hal: mengapa dijual, apakah ada kerusakan, dan berapa
harganya. Kalau mereka suka, mereka tidak menawar, langsung angkat. Dalam kepala
mereka, kalau barang ini rusak maka mereka akan kembalikan segera. Mereka
percaya bahwa orang lain dapat dipercaya, dan kalau mereka menipu mereka akan
ditangkap polisi, diadili, dan dijatuhi hukuman.

Pembaca, apakah implikasi melakukan kegiatan bisnis di sebuah low trust
society? Mudah-mudahan Saudara sudah dapat menangkapnya: jangan langsung
melakukan transaksi. Selalu mulailah dengan membangun rasa percaya dari
lawan-lawan bisnis Anda. Jangan sesekali melakukan penawaran kalau lawan bisnis
Anda di sini belum mengenal betul Anda. Kalau ada jalan pintas yang dapat
ditawarkan, barangkali cuma satu ini: carilah jembatan melalui orang-orang yang
sudah dikenal dan dipercaya oleh lawan bisnis Anda. Tanpa itu, Anda cuma
melakukan upaya sia-sia. Saya merindukan, kelak anak-anak kita akan membuat
tanda tangan yang namanya dapat dibaca oleh orang lain.

Tips Mengeruk Uang

Filed under: My Mind, Tulisan Garing — pqr @ 5:00 pm

Dijaman yang sulit seperti ini makin banyak orang yang sering tertipu
sehingga kehilangan hartanya terutama uang dengan jumlah besar.

Dengan iming-iming modal Rp. 10.000 - diatas Rp. 1.000.000 berharap akan
mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat.

Sadarlah bahwa tidak mungkin dalam waktu singkat orang dapat keuntungan yang
lumayan besar tanpa kerja keras.

Tahukah anda dengan modal Tiga ratus perak anda dapat menghasilkan uang
diatas lima ratus ribu rupiah perbulan

Ini dapat anda lakukan seorang diri atau kalau ingin tambah besar lagi anda
dapat mencari teman minimal 1 orang dan maksimal 5 orang.

Caranya ternyata cukup mudah dan setiap orang dapat melakukannya.

Berikut kiat yang dapat saya sampaikan, dan anda dapat pelajari dan
kembangkan sendiri sesuai dengan keinginan anda dan kreatifitas serta keadaan
yang akan anda temui nantinya :

  1. Kumpulkan uang seratus rupiah sisa kembalian.
  2. Kumpulkan selama tiga hari sambil anda matangkan niat anda.
  3. Cari rekan bisnis anda untuk memperoleh keuntungan hasil yang lebih besar.
  4. Letakkan uang tersebut ditangan anda dan telungkupkan kedua tangan anda
    sehingga uang tersebut berada didalam kedua tangan anda
  5. Gerakkan tangan anda sehingga tercipta bunyi gemerincing dari uang anda
    tersebut
  6. Jangan berhenti, sambil menggerakkan tangan, anda dapat bernyanyi dan rekan
    bisnis anda bisa menjadi penari latar anda
  7. Cari bis atau kereta yang tidak terlalu padat. Lakukan hal tersebut hingga
    2-3 lagu, jangan lupa rekan anda tetap menjadi penari latar dari lagu yang anda
    nyanyikan.
  8. Kemudian anda dapat berkeliling untuk meminta reward atas hiburan yang telah
    anda persembahkan untuk mereka.
  9. Sebagai perhitungan, jika 1 bis mendapatkan 3000 perak dan satu hari anda
    bisa dapat 30 bis maka total perhari Rp. 90.000 dipotong uang makan Rp 7.000
    perorang maka anda dapat menghasilkan Rp. 50.000/ hari X 30 hari = Rp
    1.500.000,- tanpa dipotong pajak penghasilan

Semoga berhasil

Good Luck,


Subject: Peluang Bisnis Yang Sangat Menjanjikan
TUKANG PARKIR

Modal : Nol, yang penting berani malu dan tahu lokasi starategis.

Penghasilan :

Jika diasumsi bahwa :

  1. Parkir mobil : Rp 1,000 / mobil / jam
  2. Parkir motor : Rp 500 / motor/ jam
    Maka jika diasumsikan Anda bekerja 8
    jam sehari di mana tempat parkir Anda dapat memuat 20 mobil atau 40 motor, maka
    Anda akan memperoleh :
    8 jam x 20 mobil x Rp 1,000 = Rp 160,000 /
    hari.
    Jika Anda bekerja 26 hari perbulan, maka penghasilan Anda menjadi Rp
    160.000 x 26 hari = Rp 4,160.000 / bulan (bebas pajak).

Keuntungan yang diperoleh :

  1. Bebas pajak
  2. Jam kerja tidak mengikat
  3. Masih bisa mengerjakan pekerjaan sambilan (jualan rokok di warung)
  4. Tingkat stress rendah
  5. Tidak beresiko. Kalau pun ada (klaim, tuntutan karena kendaraaan yang
    diparkir hilang / rusak), tinggal lari saja.
PENGAMEN

Modal : gitar, kencrengan, atau nol sama sekali. Yang penting berani
malu.

Penghasilan :

Tergantung tempat dan sasaran. Jika sasaran yang dituju adalah mobil angkot
mungkin bisa lebih besar. Jika diansumsikan tempat yang dituju adalah lampu
merah dengan durasi 2 menit, dan pendapatan Rp 300 / angkot, dan bekerja 8 jam,
maka :

8 jam x (60 /2 menit) x Rp 300 = Rp 72.000 / hari.

Jika bekerja 26 hari perbulan, maka pemasukan minimum yang diperoleh adalah :
Rp 72.000 x 26 hari = Rp 1.872.000.

Keuntungan yang diperoleh :

  1. Bebas pajak
  2. Waktu kerja tidak mengikat
  3. Tidak butuh keahlian. Cuap-cuap tanpa suara pun pasti dapat.
  4. Stress nyaris tidak ada. Justru bisa menghibur diri.
  5. Tidak beresiko, asal hati-hati kalo menyeberang atau mengamen di tengah
    jalan ramai.
  6. Jika gesit (misalnya dalam satu durasi lampu lalu lintas dapat menyambangi
    2-3 angkot), penghasilan bisa meningkat 2-3 kali lipat.
TUKANG BERSIH-BERSIH KACA MOBIL

Modal : kain rombeng, pembersih bulu ayam, busa dan sabun detergen

Penghasilan :

Nyaris sama dengan pengamen, malah dapat 3-4 kali lipat, karena dalam 1
durasi lampu lalu lintas, dapat menyambangi 5-10 mobil sekaligus, tergantung
kegesitan kerja.

Keuntungan yang diperoleh :

  1. Bebas pajak
  2. Waktu kerja tidak mengikat.
  3. Tidak butuh keahlian. Yang penting kerja cepat saja.
  4. Hasil kerja bukan tujuan akhir.
  5. Tingkat stress tidak ada.
PENGEMIS

Modal : baju kusut, dekil, dan tidak mandi seminggu. Dan yang terutama :
berani malu!

Penghasilan :

Tergantung kemampuan menarik hati orang. Semakin memelas, maka penghasilan
semakin besar. Pada tahun 1997, seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi
swasta Jakarta pernah mengadakan penelitian dan menemukan bahwa seorang pengemis
di Jakarta rata-rata mampu mengumpulkan Rp 500.000 perhari, atau Rp 15 juta
perbulan. Bahkan baru-baru ini ada seorang ibu asal Garut yang mengakui di
sebuah media Bandung, bahwa dengan menjadi pengemis selama 1 bulan saja, dia
telah mampu pulang kampung dengan membawa Baleno keluaran terbaru yang bernilai
200-an juta rupiah, plus oleh-oleh untuk keluarga di kampungnya. Sebuah hasil
yang luar biasa. So jangan heran bahwa pekerjaan menjadi primadona banyak orang
yang datang ke kota-kota besar.

Keuntungan yang diperoleh :

  1. Bebas pajak
  2. Waktu kerja tidak mengikat
  3. Hanya butuh keahlian menarik hati orang.
  4. Tingkat stress tidak ada
  5. Dapat prioritas pertama dari Pemerintah kalo ada program bantuan bagi kaum
    dhuafa.

Nah, Anda berminat dengan peluang-peluang bisnis yang luar biasa ini?

Untuk Yang Merasa Jelek

Filed under: Tulisan Garing — pqr @ 3:52 pm

Tips Untuk Anda Yang Merasa Jelek

Jangan putus asa, tidak semua orang menilai manusia dari fisiknya…

DONT JUDGE THE BOOK BY THE COVER
Jangan menghukum buku karena dia meninggalkan koper
Jangan salahkan diri Anda kalau Anda jelek, salahkanlah orangtua
Anda, karena jelek itu keturunan..
LIKE FATHER LIKE SON
Suka bapaknya, suka juga sama anaknya
Jangan sakit ati kalo dikatain jelek, cuek aja, pokoknya kafilah
menggonggong anjing tetap berlalu..
THE BEAUTY IS UNDER THE SKIN
Jadi cakep kalo uda ganti kulit
Perbaiki inner beauty Anda, itu kalau Anda merasa sisi luar Anda udah
ancur ga ketolong lagi…
NO GAIN WITHOUT PAIN
Ga dapet duit kalo ngga kesakitan dulu…kaya kuda lumping
Jadilah diri Anda sendiri, kalau Anda jelek syukurilah kejelekan
Anda…
JUST BEE YOURSELF
Kesengat tawon, itulah kamu (muka kamu)
Kalau orang lain menilai Anda jelek, jangan skeptis, penilaian
manusia tidak selalu benar…
THE TRUTH IS OUT THERE
Yang bener boleh keluar
Cakep-jelek itu tergantung Tante-tante Girang lingkungan, misalnya
Anda disini jelek tapi di Afrika bisa paling ganteng…
THE RIGHT MAN IN THE WRONG PLACE
Orang disebelah kanan, salah tempat..hrsnya disebelah kiri
Cinta tidak memandang cakep atau jelek, ga percaya? Tanyakan hal ini
sama orang jelek…
LOVE IS BLIND
Pacarilah orang buta
???

Kalo Anda membaca tips ini sampe selesai, berarti Anda memang merasa
jelek..

Kalo Anda sendiri merasa jelek, apalagi orang lain melihat Anda…

Jangan menganggap kalo Anda merasa jelek itu Anda low profile, percayalah…
orang lain pun akan setuju dgn pendapat Anda, percayalah pd kata hati Anda
(kalau Anda jelek)…

Memang CAKEP itu RELATIF… tapi kalo JELEK itu MUTLAK.

Next Page »

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.