Khamar dan Bid’ah
Malam itu kami bertiga mengobrol di sebuah warung kopi. Tempatnya cukup bersih untuk ukuran warung pinggir jalan yang buka di malam hari. Rupanya bapak yang memiliki warung ini hampir di saat tidak meladeni pelanggan, ia sempatkan untuk sekedar menengok di keadaan warungnya, kalau-kalau ada yang harus ia benahi atau ada bekas bungkus plastik yang harus dia pungut. Jika tidak demikian, maka ia menenggelamkan diri membaca berita di koran atau majalah.
Pak Ganu beliau pernah menyebut namanya pada awal-awal kami menjadikan warungnya sebagai tempat untuk bersantai membicarakan keseharian. Dengan perawakan yang cukup tegap untuk ukuran pria berusia sekitar lima puluh tahunan, dia tidak pernah (sepanjang aku mengetahui) memperlihatkan wajah lelah. Padahal beliau selalu membuka warungnya selepas Dzuhur hingga tutup sekitar jam sebelas malam. Paling-paling beliau beristirahat saat waktu shalat, setelah warungnya diganti jaga oleh anaknya yang menjadi tukang becak, itu pun tidak lama karena mungkin dia mengkhawatirkan pelanggan yang mungkin sudah menunggunya disamping si anak juga harus kembali ke pangkalan becaknya.
Kami mengelilingi salah satu meja pendek yang paling dekat dengan tempat pak Ganu duduk. Ya, warung pak Ganu adalah warung lesehan. Namun tidak seperti warung lesehan lain yang selalu ramai dengan anak muda, warung pak Ganu hanya berisi tiga buah meja. Di samping itu, beliau tidak memperdengarkan musik sama sekali dengan alasan beberapa warung lainnya sudah menyetel, sehingga beliau tidak perlu menambah kebingaran.
Obrolan kami kali ini juga ringan-ringan saja, seputar beberapa permasalahan kerja masing-masing, tidak ada yang istimewa. Aswa yang berkeliling mendistribusikan produk makanan ringan dan permen bercerita mengenai kejadian kecelakaan yang sempat disaksikannya. Seorang pemuda yang entah ngantuk atau sedang kalut mengendarai motornya terlalu ke tepi sehingga masuk ke dalam parit. Tidak terlalu dalam memang parit yang oleh pemuda tersebut dijadikan ‘tempat parkir’ motornya, tapi entah mengapa velg motornya sampai bengkok, sedangkan pemuda itu hanya lecet-lecet sedikit di telapak tangannya.
Aku pun bercerita mengenai salah seorang pelangganku yang memberikan sekantung plastik molen pisang dan kacang hijau di tempat kerjaku sebagai ucapan terima kasih karena pesanan brosur dan kaosnya selesai sebelum waktu tenggat. Aku bekerja di sebuah percetakan, dan pelanggan yang satu merupakan pelanggan yang sangat rewel ketika memesan cetakan. Namun bagi teman-teman yang bekerja di tempat aku berkerja, menganggap lebih baik seorang pelanggan rewel di depan, daripada dia mengajukan komplain karena mendapakan barang yang dipesan tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Bisdi menceritakan rencananya untuk mengajak kami ke sebuah masjid di tengah kota untuk mengikuti rangkaian ibadah Nisfu Sya’ban. Sejenak aku ragu akan ajakan tersebut karena aku pernah membaca bahwa hal yang demikian merupakan kegiatan yang sia-sia. Dan kamipun asyik berdiskusi mengenai apa yang kami tahu dari Nisfu Sya’ban. Sambil mengemil pisang goreng pak Ganu yang renyah dan menyeruput kopi jagung, kami saling melempar pertanyaan dan jawaban diselingi kelakar ringan.
Karena asyiknya, kami tidak menyadari bahwa pak Ganu tiba-tiba bergabung diantara kami sambil membawa sekaleng minuman yang aku tahu masuk dalam kategori khamar, hanya saja khamar yang ini mengklaim nol persen alkohol.
“Silahkan diminum, atau setidaknya dicicipi”, dengan senyum ringan pa Ganu menawarkan minuman tersebut kepada kami, yang tentu saja tidak seorang pun dari kami yang tidak kaget. Belum hilang keterkejutan kami atas tawaran itu, pak Ganu membuka segel kaleng minuman tersebut dan kemudian menuangkan semua isinya di selokan belakang warungnya tepat di sebelah kami.
“Bid’ah, itu seperti minuman ini, dikemas dengan embel-embel yang menarik dan seakan-akan aman”, pak Ganu berkata setelah habis tuntas isi kaleng itu dibuangnya. “Kita semua tahu bahwa minuman ini adalah busuk, haram, meskipun diberi embel-embel bebas alkohol, namun tetap memberikan efek mabuk bagi peminumnya.”
“Begitu pula dengan bid’ah”, pak Ganu melanjutkan pembicaraannya, “Sebenarnya itu adalah sesuatu yang busuk dalam agama, namun karena dikemas dengan baik oleh yang membuatnya, menjadikan seakan-akan kegiatan tersebut baik.”
“Berhati-hatilah, nak sekalian”, ujar pak Ganu, “Janganlah mudah tertipu oleh apa yang kalian lihat. Terlebih dalam beragama. Karena kalian tidak bisa main-main dengan urusan agama”.
Dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang jelas, kami bertiga ditampar bersama-sama dengan sekali tamparan. Bahkan tidak menyebutkan Qur`an atau pun hadist.
Karena tidak ada satu pun dari kami yang berbicara, pak Ganu kembali ke singgasananya sembari meneruskan membaca majalah yang rupanya ia tinggalkan untuk memberikan kami pencerahan.
Ya Allaah… ma`afkan kekhilafan kami.
