PQR

Sunday, 15 July, 2007

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku…

Filed under: Music — pqr @ 1:18 pm

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika.

Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang.

Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis,

“Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah.

Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya?

Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan…kita mesti lihat apa yang akan terjadi…”

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya…

Dia tidak melihat sehelai pita kuning…

Tidak ada sehelai pita kuning….

Tidak ada sehelai……

Melainkan ada beratus helai pita-pita kuning….bergantungan di pohon beringin itu…Ooh…seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning…!!!!!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree”, dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973. Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut,…

If God always forgive you,.. will you forgive the others ?.. think wisely.. !!

link

Sakit ngga sih?

Filed under: My Mind — pqr @ 9:42 am

Kain hitam yang membalut semakin mencemerlangkan dirinya yang diterpa hangat mentari pagi. Kehadirannya di kejauhan cukup membuatku terkejut dalam kesendirian.

"Mlebuo mas…",
ah… bibir nan ranum bak biji delima menari membentuk ucapan tanpa suara, namun terdengar sangat jelas merasuk ke sela-sela telingaku. Ditunjuknya pendapa tempat para tetua bercengkrama menantikan sakralnya janji cinta suci dalam ikatan restu dari Yang Maha Pencipta. Lengan yang berpendar dengan sinar yang menyejukkan mata membuatku semakin terlena dalam lamunan penuh gelora. Pastinya aku akan pingsan seandainya dapat meraih lengan itu untuk sekedar membelai, meskipun tidak lebih lama dari kedipan mata.

Dengan gerakan yang lincah, sosok itu melewati sisi pesanggrahan yang kan menjadi saksi bagi menyatunya dua insan hendak berbahagia dalam keindahan nikmat cinta asmara bertabur restu manusia-manusia yang sudah tidak sabar lagi menimang kehadiran cucu.

Dahaga akan keindahan dari lincahnya sosok yang berkelebat di depan mata, aku mengikuti langkah mungil itu. Namun rasa ini tak dapat kupuaskan, karena dia menghilang. Oh… dirimu begitu kejam menyiksaku dengan kesejukan yang tidak sedikitpun aku sempat menegaknya, merana dalam derita mengharapkan seteguk air di padang pasir tanpa batas. Kurasakan sejuknya pagi menjadi gersang. Aku menjadi terasing di tengah cerianya suasana dalam harapan menanti saat-saat kebahagiaan menyatunya dua keluarga.

Gontai langkahku mencari jalan untuk kembali dalam keceriaan sebagai tamu. Ah… dirimu tiba-tiba datang di sela-sela kebimbangan akan pencarian. Begitu dekat… namun tak juga aku dapat menyentuh.

Aku pun mengerti ketika beberapa hari yang lalu angin membisikan kabar telah lenyap dua bintang dari konstilasinya. Karena aku telah menemukannya di dalam mata yang menatapku, berkelip-kelip menyejukkan hati yang menatap.

Indahnya yang kulihat… aku serasa berenang dalam kesejukan siraman sinar pelangi yang menghiasi cerahnya sore hari setelah diterpa hujan. Bukankah bidadari seharusnya di syurga? Lalu apa yang kau lakukan di bumi ini wahai yang indah?

Dan aku pun bertanya,
"Bidadari sepertimu, saat jatuh dari langit, sakit ngga sih?"

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.