PQR

Sunday, 8 July, 2007

Jangan sedih ya sist…

Filed under: Weblogs — pqr @ 12:43 pm

Assalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

DUAPULUHDELAPANKOMADUAPULUH, untuk ukuranku adalah angka yang fantastis seandainya aku punya nilai rata-rata sembilankomaempat pada nilai ujian nasionalku. Tapi, adekku tercinta bisa mencapainya dengan nilai Matematika sepuluh, Bahasa Inggris sembilan, Bahasa Indonesia sembilankomadua. Aku sempat nangis saking senengnya pas pertama kali ndenger Ira (nama adekku) dapet angka itu.

Dan akhirnya, Sabtu sore kemaren (09/07) aku ngeliat hasil penerimaan siswa baru di psb online, aku ndapetin Ira diterima di salah satu sekolah favorit di Malang. Sekolah yang aku dan ibuk inginkan dijadikan Ira sebagai tempat untuk memperkaya ilmunya. Meskipun sekolah tersebut bukan pilihan pertama Ira, tapi pilihan ke dua, karena pendapat Ira dan pendapat kebanyakan orang di Malang berbeda mengenai sekolah yang lebih baik. Anyway… Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiyn karena lolos dalam seleksi psb, masuk ke sekolah favorit.

Minggu paginya, pagiiii baget, kira-kira jam duabelaslebihlima, aku dapet telpon dari rumah (aku pas lagi ada kerjaan di tempat temen), Ira sakit… menggigil sampe gemeteran… Satu - dua detik mencoba menguasai diri, aku menjawab ke ibuk agar tangan dan kaki Ira dikasih jahe, trus disuru minum habbatus sauda ma dicampur sedikit madu.

Segera aja aku pamit ma temen-temenku untuk langsung pulang. Emang sih, pagi itu Malang cukup dingin, kisaran 19-20ÂșC, kata orang di Badan Meteorologi dan Geofisika sih ini efek dari el nino. Meski motorku terlalu tua untuk dipake ngebut, aku tancep gas ajah biar cepet nyampe rumah.

Nyampe rumah dan memberi salam, aku langsung ke kamar mandi, karena kebeles pipit saking kedinginannya, sekaligus ngebersihin tangan, trus ambil aer termos seperempat mangkuk ditambah air dari bak mandi mpe jadi setengah mangkuk. Aku celupin tangan di mangkuk mpe tanganku ngga dingin gara-gara mengarungi separoh kota Malang pake acara ngebut.

Setelah aku rasa tanganku ngga dingin lagi, aku masuk kamar dan mendapati Ira make selimut dobel… duh…
Aku mencoba memijat beberapa titik di tangan dan kaki serta punggung, sekali-kali aku denger samar bibirnya mengeluarkan desis menggigil. Aku bertanya ama ibuk apa sorenya Ira ngga maem? Sudah, jawab Ira mendahului ibuk. Karena aku mendapati Ira bisa diajak komunikasi, aku membujuk ibuk agar segera tidur dan aku menggantikan berjaga untuk mengurus Ira.

Aku pun bertanya hal-hal dasar seperti apakah udah beol? (sudah). Apakah tadi keluar tanpa jaket? (tidak). Ya emang sih Ira bukan termasuk anak yang suka maen ke luar rumah selain ke perpustakaan umum atau ke temennya, itu pun siang hari. Apakah perutnya perih? (sedikit). Apakah pusing? (ya), dan serentetan pertanyaan-pertanyaan laen yang kadang aku harus mengulanginya karena aku ngga denger jawabannya, gara-gara Ira menjawabnya dalam keadaan ngantuk dan suara mendesis campur menggigil. Sampai aku beranikan untuk bertanya apakah dia merasa sedih karena tidak masuk ke sekolah yang menjadi pilihan pertamanya? (diam).

Sudah tidurkah? ow, masih menggigil, mungkin Ira terlalu mengantuk dan pusing untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Oke deh, ga pa pa, kakangmu disampingmu kok dek.

Ron, tangi, SUBUHAN!!
Aduh… ternyata aku ngga kerasa tertidur pas lagi meninabobokkan adekku, entah siapa yang lebih dulu tidur, aku pa adekku, yang jelas udah jam lima lewat ketika ibukku membangunkan aku untuk setor dua rakaat shalat Subuh. Aku menoleh ke arah adekku dan tempat tidurnya udah kosong. Saat aku akan ambil air wudhu aku sempat melirik ke arah meja makan, dan kulihan Ira sedang sarapan sambil tetap terbungkus dua lembar selimut.

Selesai shalat Subuh yang kuperjuangkan pikiranku untuk lebih konsentrasi karena sambil melawan kantuk, aku mendekati Ira dan bertanya apakah sudah merasa baikan? (Masih pusing), ya udah ntar ini abis sarapan trus tidur lagi ya… Aku pun kembali masuk kamar untuk melanjutkan tidurku dengan menanggung rasa bersalah karena shalat Subuh dalam keadaan ngantuk berat.

—eos—


Ya… seringkali keadaan fisik kita yang sebenarnya hanya sedikit lelah dapat terpicu menjadi sakit gara-gara emosi negatif yang menyelimuti. Meskipun secara sadar adekku dapat menerima kenyataan tersingkir dari sekolah yang menjadi pilihan pertamanya, namun alam bawah sadarnya yang bersedih menggerogoti vitalitasnya. Dalam cuaca kota Malang yang memang saat ini kurang menguntungkan bagi kesehatan, adekku tertimpa musibah dengan merasakan serangan hawa dingin lebih dari kebanyakan orang.

Sudahlah dek, dun worry deeee… doain ajah agar kakakmu bisa lancar duitnya sehingga ngga sampe berurusan ama debt collector gara-gara nunggak bayar utang.

Wassalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.