PQR

Sunday, 22 July, 2007

Last Potter Books

Filed under: Books — pqr @ 10:15 am

Hpdhcover The story of Harry Potter and the Deathly Hallows is as follows:

Given below are pages on the book specific to the story….

Hedwig dies pg56
Mad-Eye dies pg78
Scrimgeour dies pg159
Wormtail dies pg471
Dobby dies pg476
Voldemort kills Snape pg658
Snape was good, loved Lily - entire Chapter 33
Colin, Crabbe, Bellatrix, Fred, Tonks, Lupin, Ted Tonks, Scrimgeour all die

Hagrid, Malfoy, Neville survive.

Ron marries Hermione
Harry marries Ginny
Their children attend Hogwarts together

source

Monday, 16 July, 2007

Mengurangi jumlah abjad pada bahasa Indonesia

Filed under: Tulisan Garing — pqr @ 1:58 pm

From: Nurdiansyah
(disadur dari sebuah tulisan yang sudah lama hilang - versi Inggris)

Abjad yang digunakan di dalam bahasa Indonesia berjumlah 26. Ke-26 abjad tersebut rasanya masih terlalu banyak, dan lagipula ada beberapa abjad yang jarang sekali digunakan.

Oleh karena itu mari kita sederhanakan abjad-abjad tersebut dan menyesuaikan dengan kata-kata yang kita gunakan.

  • Pertama-tama, huruf X, kita ganti dengan gabungan huruf K dan S. Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yang menggunakan huruf ini, kebanyakan merupakan kata serapan dari bahasa asing. Misalnya taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal, dst.
  • Selanjutnya, huruf Q kita ganti dengan KW. Serupa dengan X, kata2 yang mengunakan huruf ini juga sangat sedikit sekali.
  • Berikutnya, huruf Z. Huruf Z kita ganti menjadi C. Tidak ada alasan kuat tentang hal ini.
  • Huruf Y diganti dengan I. Hal ini dilakukan sebab bunii huruf tersebut mirip dengan I.
  • Kemudian huruf F dan V keduania diganti menjadi P. Pada lepel ini masih belum terjadi perubahan iang signipikan.
  • Hurup W kemudian diganti menjadi hurup U. Berarti sampai saat ini kita sudah mengeliminasi 7 hurup.
  • Hurup iang bisa kita eliminasi lagi adalah R, mengingat baniak orang iang kesulitan meniebutkan hurup tersebut. R kita ganti dengan L.
  • Selanjutnia, gabungan hulup KH diganti menjadi H.
  • Iang paling belpengaluh adalah hulup S iang diganti menjadi C.
  • Hulup G juga diganti menjadi K.
  • Dan hulup J juga diganti menjadi C.

Caia laca cudah cukup untuk hulup-hulup konconannia. Cekalank kita kanti hulup pokalnia. Cuma ada lima hulup pokal, A, I , U, E, O.
Kita akan eliminaci dua hulup pokal.

  • Hulup I mencadi dua hulup E iaitu EE.
  • Cementala hulup U mencadee dua hulup O iaitoo OO.

Cadi, campe cekalank, keeta belhaceel menkoolangee hooloop-hooloop keeta. Kalaoo keeta tooleeckan lagee, hooloop-hooloop eeang telceeca adalah:

A, B, C, D, E, H, K, L, M, N, O, P, T.

Haneea ada 12 belac hooloop!! Looal beeaca bookan?? Padahal cebeloomneea keeta pooneea 26 hooloop.

Eenee adalah penemooan eeang cankat penteenk dan cikneepeekan!! Co, ceelahkan keeleemkan tooleecan anda denkan menkkoonakan dooa belac hooloop telceboot.

Halima

Filed under: Current Affairs, Tulisan Garing — pqr @ 10:15 am

HALIMA
Yang dibenci dan terbuang!
(Based on True Story)

By: Dodik Biantoro

Halima…

Sebuah nama yang cantik… Meski aku belum tahu siapa kamu, pun juga raut wajahmu. Halima, aku tak tahu apa yang salah dengan dirimu, aku tak tahu seberapa berat kadar dosamu. Yang aku tahu…, semua orang membencimu. Semua orang bergidik mendengar namamu. Mereka kesetanan melihatmu, mereka berhamburan saat kau datangi.

Semalam kudengar suara… Sebuah keluarga ningrat menangis! Meronta pedih…, menghamburkan tangis menyayat jiwa. Aku datangi mereka… Aku bertanya tentang sebab. “Ini semua gara-gara Halima…”,  jawab mereka lemah.
Halima lagi…?!   Ini sudah yang ke enam kalinya.

Aku semakin bingung…  Meski tak sampai linglung. Semakin dalam kuberpikir, mencoba berpijak pada logika. “Apa salah Halima?!”, pertanyaan itu  terus mengusikku. Hingga suatu saat…   Kuberanikan bertanya, terdorong penasaran.

Kebetulan sesosok medis sedang sendiri menunggu tanya.
“Sibuk, dokter?”, basa basiku meluncur begitu saja.
“Nggak juga…, kenapa? Ada yang bisa saya Bantu?”, sambil menatapku ramah.
“Mau nanya dok…, dokter kenal dengan Halima?”
“Halima yang mana ya, mas?”
“Itu…, yang ditakutin warga, yang katanya penyebab matinya  anak orang ningrat itu!”, tegasku. (sorry om Dod, nama yang tercantum aku sensor)
“Oooo… tahu…, tahu dengan baik, tapi saya tak mau mengenalnya!  Kenapa, mas?”, senyumnya mengundang tanya.
“Saya cuman heran,  kenapa semua orang memusuhinya, dok? Salah apa dia? Dosa apa dia?!”, tanyaku terdengar seolah pembelaan subyektif.
“Halima…  Iya, memang semua orang membencinya, termasuk saya! Semua hanya karena sebuah nama, mas!”
“Hanya karena nama? Maksudnya, dok?”
“Seandainya namanya sekedar Halima saja… tanpa ada embel-embel lainnya!  Sayang sekali…  Nama yang bagus harus diembel-embeli nama tambahan!  Faktor itulah yang menebarkan kebencian!  Karena nama panjangnya!”
“Koq aneh…? semua orang benci Halima hanya karena nama panjangnya?!  Aneh!  Benar-benar aneh!  Emang nama panjangnya membawa sial ya, dok? Atau terlalu buruk untuk didengar?  Atau namanya terlalu ndeso untuk ukuran orang kota macam dokter? Kalo boleh tahu, siapa sih nama panjang Halima?”, tanyaku memburu bertubi-tubi.

“Nama panjangnya…: Halima En Satu”, lirih jawabnya… hampir tak terdengar…

Next Page »

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.