PQR

Wednesday, 6 June, 2007

Aku pun malu…

Filed under: Weblogs — pqr @ 10:43 am

Assalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Kami memanggilnya bu Ismi, salah satu teman kuliahku. Orangnya ramah, senang bercanda, ceria, tapi bukan termasuk orang yang suka bermain-main dalam setiap masalah. Maksudku, dia adalah seorang yang tegas dalam hal tanggung jawab. Sungguh berbeda dengan aku yang… kalau dalam bahasa Jawa nggelendem, aku sulit mencari padana kata ‘nggelendem’ dalam bahasa Indonesia, jadi maaf untuk yang baca tulisan ini tapi ngga ngerti bahasa Jawa. Mungkin istilah yang paling mendekati adalah ‘tidak bersungguh-sungguh’.

Hal yang paling aku suka dari bu Ismi adalah selalu banyak kue di rumahnya :-) Teman-teman lain pun juga beranggapan demikian, meski mungkin kategori ini bukan menjadi yang paling mereka sukai, tapi semua sepakat bahwa hanya Allaah Subhanahu wa Ta’aala yang mampu membuat teman-teman kelaparan jika mampir ke rumah bu Ismi :-)

Senin sore (04/06/07) kemarin aku berkunjung ke rumah bu Ismi karena komputer anak sulungnya error dan aku diundang untuk memperbaikinya. Saat bertemu bu Ismi, Alhamdulillaah… ternyata beliau sudah melakukan persalinan ketiga. Aku tidak terlalu banyak ngobrol setelah dipersilahkan masuk karena anaknya sudah menyeretku ke sebuah CPU yang direbahkan dalam posisi aneh seperti habis dibongkar. Singkat cerita, setelah hampir satu jam aku mengajari cara membongkar dan memasang lagi tiap bagian CPU itu, aku memastikan bahwa tidak ada kerusakan yang berarti dari CPU tersebut. Kalaupun tadinya ngga mau nyala dan timbul bau gosong, dimungkinkan karena pada saat membersihkan, ada sudut tertentu yang malah debunya menggumpal dan membuat konsleting.

Selesai membetulkan CPU, aku kembali ke ruang tamu untuk sekedar ngobrol dengan bu Ismi. Sambil menyeruput kopi yang dihidangkan, (tak lupa dengan rakus mencomot kue yang ada) aku menanyakan kabar persalinannya.

“Laki-laki apa perempuan bu?”, aku bertanya. “Perempuan”, bu Ismi menjawab singkat yang kemudian aku timpali “Alhamdulillaah, lancar kan bu?”. “Iya mas Harun, lancar”, jawabnya, “tapi mahal…”

Semula aku memahami jawaban tersebut merupakan keluhan mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk persalinan dan hendak bertanya seberapa mahal namun entah mengapa yang keluar dari mulutku adalah “Mahal bagaimana bu?”, karena kulihat sepertinya beliau menunjukkan ekspresi menahan kesedihan, bukan mengeluh. Karena memang sepanjang yang aku tahu, bu Ismi bukan lah kelompok orang yang suka mengeluh kepada teman-temannya. Ternyata memang aku salah memahami, perkiraanku bahwa yang dimaksud bu Ismi ‘mahal’ merupakan biaya, adalah salah besar. “Ada kebocoran jantung…”, kata bu Ismi lirih.

Masyaallaah… ibaku pun menderu, orang seperti bu Ismi harus menghadapi hal seperti itu, dikaruniai seorang putri yang…
Bu Ismi pun bercerita ini itu mengenai putri bungsunya, bahwa dari foto ronsen tampak adanya rembesan darah, bahwa dia sangat menjaga agar si bungsu tidak menangis terlalu lama karena hal ini akan memacu kerja jantungnya dan rembesan akan semakin banyak, bahwa si bayi tidak bisa terlalu lama jika dimandikan, badannya menjadi biru… ya Allaah…

(aku tidak sanggup untuk menceritakan kembali lebih banyak lagi apa yang dituturkan bu Ismi)

Di akhir cerita, bu Ismi bertutur “Yaa… beginilah ma Harun, oleh Allaah diberi kepercayaan untuk menghadapi hal seperti ini”
Mencelos… Tiba-tiba saja dadaku sesak, perutku menjadi seperti berguncang, kutundukkan wajahku yang tiba-tiba menjadi gerah. Aku malu.

Bu Ismi, orang yang mendapatkan dua pahala jika membaca Al-Qur’an (insya Allaah), karena beliau masih terbata-bata (sumber), mampu mengucapkan kata yang membesarkan hatinya, tapi sekaligus menciutkan keakuanku sedemikian rupa. Ketabahan luar biasa dengan menganggap bahwa ujian (kuharap memang ujian) yang diberikan oleh Allaah Subhanahu wa Ta’aala merupakan bentuk kepercayaan Allaah Azza wa Jalla kepada dirinya untuk mampu menghadapi amanah serupa itu.

Aku pun segera berpamit, tidak sanggup lebih lama di rumah itu saking malunya, malu pada diri sendiri, malu pada orang-orang di sekitarku, malu pada Rabbku yang aku selalu mengeluh kepadaNya tanpa dibarengi usaha yang berarti untuk mengatasi keluhanku selama ini.

Ya Allaah, aku menyaksikan ketabahan orang yang terbata-bata saat membaca ayat-ayatMu sebagai tamparan serius pada kesia-siaan yang kulakukan selama ini. Sungguh Engkau Maha Segala-galanya telah memberikan aku pelajaran seperti ini.

Air mataku masih sempat menitik ketika kutuliskan cerita ini, bukan melulu karena iba, namun terlebih karena rasa malu yang membuat setiap organ tubuhku menjadi terasa tidak terkoodinasi dengan benar.

Semoga Allaah Rabbul ‘Alamiyn menguatkan hati orang-orang yang bersungguh-sungguh mengharapkan RidhoNya.

Wassalaamu`alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

Powered by Friendster. WPMU Theme pack by WPMU-DEV.